Memahami pantangan kanker payudara dapat membantu Anda menghindari kebiasaan yang dapat berpotensi mengganggu kondisi tubuh selama menjalani perawatan. Lantas, apa saja risiko dan pantangan bagi penderita kanker? Simak penjelasannya berikut ini!
Bahaya Kanker Payudara yang Perlu Diwaspadai
Kanker payudara tidak hanya menyebabkan perubahan pada jaringan payudara. Jika berkembang tanpa penanganan yang tepat, berikut bahaya kanker bagi tubuh:
1. Penyebaran Kanker ke Organ Lain
Sel kanker dapat menyebar dari payudara melalui aliran darah atau sistem getah bening. Kondisi ini disebut metastasis dan dapat membuat penyakit berkembang ke organ lain, seperti tulang, paru-paru, hati, atau otak.
Metastasis dapat menimbulkan masalah baru sesuai organ yang terkena. Misalnya, penyebaran ke tulang dapat menyebabkan nyeri tulang, sedangkan penyebaran ke otak dapat memicu sakit kepala atau gangguan saraf.
Risiko penyebaran inilah yang membuat pemeriksaan dan pengobatan sedini mungkin sangat penting. WHO juga menyebutkan bahwa kanker payudara yang ditemukan dan ditangani lebih awal memiliki peluang hasil pengobatan yang lebih baik.
Baca juga: Catat! 5 Rumah Sakit Kanker Terbaik di Malaysia
2. Kerusakan Jaringan Lokal
Pertumbuhan tumor dapat memengaruhi jaringan di sekitar payudara. Pada kanker yang sudah lanjut, tumor bahkan dapat menembus kulit dan menyebabkan luka terbuka atau sulit sembuh.
Selain perubahan pada payudara, keterlibatan kelenjar getah bening juga dapat berkaitan dengan pembengkakan di area ketiak atau lengan. Keluhan seperti luka yang tidak kunjung sembuh, perubahan kulit, atau pembengkakan sebaiknya segera diperiksakan.
3. Penurunan Kualitas Hidup
Kanker payudara dan pengobatannya dapat memengaruhi kehidupan pasien secara fisik maupun emosional. Tindakan seperti operasi, kemoterapi, atau radioterapi dapat menimbulkan efek samping dan membutuhkan proses pemulihan.
Pengangkatan payudara atau mastektomi juga dapat menyebabkan perubahan bentuk tubuh yang berpengaruh terhadap rasa percaya diri. Selain itu, kelelahan, nyeri, serta tekanan emosional selama menjalani pengobatan dapat membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit.
Pendampingan medis sebaiknya tidak hanya berfokus pada kanker, tetapi juga mencakup rehabilitasi dan dukungan psikososial untuk membantu mempertahankan kualitas hidup pasien.
4. Meningkatkan Risiko Kematian
Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang menjadi penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan di berbagai negara. Pada 2024, WHO memperkirakan sekitar 694.000 kematian di dunia berkaitan dengan kanker payudara.
Risiko kematian terutama menjadi perhatian ketika kanker ditemukan pada stadium lanjut atau telah menyebar ke organ lain.
Meski begitu, diagnosis kanker payudara bukan berarti tidak ada peluang untuk mendapatkan hasil pengobatan yang baik. Deteksi dini, diagnosis yang tepat, serta penyelesaian pengobatan sesuai anjuran dokter menjadi bagian penting dalam meningkatkan peluang keberhasilan terapi.
Gejala Kanker Payudara yang Perlu Diwaspadai
Kanker payudara sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Meski begitu, perubahan pada payudara maupun area sekitarnya tetap perlu diperhatikan. Berikut lima gejala kanker payudara yang perlu diwaspadai:
1. Muncul Benjolan Keras pada Payudara
Benjolan merupakan salah satu tanda yang paling sering dikaitkan dengan kanker payudara. Benjolan yang perlu mendapat perhatian khusus umumnya terasa keras dan sulit digerakkan saat disentuh.
Baca juga: Apa Ciri-Ciri Tumor Payudara yang Perlu Anda Waspadai?
Namun, tidak semua benjolan pada payudara merupakan kanker. Beberapa kondisi jinak juga dapat menyebabkan benjolan. Oleh sebab itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa setiap benjolan adalah kanker, dan sebaiknya periksakan ke dokter, terutama jika benjolan baru muncul atau terus membesar.
Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan karakter benjolan. Dokter dapat menentukan pemeriksaan lanjutan yang sesuai berdasarkan kondisi dan hasil pemeriksaan fisik.
2. Kulit Payudara Berubah
Perubahan pada kulit payudara juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Kulit dapat tampak kemerahan, berkerut, mengalami luka, atau terlihat seperti kulit jeruk. Perubahan tersebut dapat terjadi ketika pertumbuhan kanker memengaruhi jaringan dan saluran getah bening di sekitar payudara.
Beberapa perubahan kulit yang sebaiknya tidak diabaikan antara lain:
- Kulit payudara menjadi kemerahan tanpa penyebab yang jelas.
- Permukaan kulit tampak berkerut atau menyerupai kulit jeruk.
- Muncul luka pada payudara.
- Tekstur kulit berubah dibandingkan kondisi sebelumnya.
- Perubahan hanya terjadi pada salah satu payudara.
Baca juga: Didiagnosis Penyakit Kanker, Coba Cari Second Opinion di Malaysia
3. Payudara Bengkak dan Terasa Nyeri
Pembengkakan pada payudara merupakan perubahan lain yang perlu diperhatikan, terutama jika muncul tanpa benturan atau penyebab yang jelas. Payudara juga dapat terasa nyeri, lebih berat, atau mengalami perubahan ukuran dibandingkan biasanya.
Nyeri payudara sendiri bukan tanda khusus kanker. Perubahan hormon, menstruasi, infeksi, dan beberapa kondisi jinak juga dapat menyebabkan rasa sakit. Meski demikian, nyeri yang menetap dan disertai perubahan lain sebaiknya tidak diabaikan.
Perhatikan apabila terdapat:
- Pembengkakan pada sebagian atau seluruh payudara.
- Perubahan ukuran salah satu payudara.
- Rasa nyeri yang terus berlangsung.
- Payudara terasa lebih berat atau tidak nyaman.
- Bengkak disertai perubahan kulit atau benjolan.
4. Puting Mengeluarkan Cairan atau Darah
Keluarnya cairan dari puting juga perlu mendapat perhatian, terutama jika terjadi secara spontan dan bukan berkaitan dengan menyusui.
Selain cairan, perubahan pada puting juga dapat menjadi petunjuk adanya masalah pada payudara. Misalnya, puting yang sebelumnya normal kemudian mengalami perubahan bentuk atau tertarik ke arah dalam.
Tidak semua cairan dari puting menunjukkan kanker. Namun, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya, terutama jika cairan keluar secara spontan atau mengandung darah.
Baca juga: Biaya Kemoterapi di Malaysia: Berapa Besar Dana yang Harus Disiapkan?
5. Muncul Benjolan atau Bengkak di Ketiak
Area ketiak juga perlu diperhatikan ketika melakukan pemeriksaan payudara. Kelenjar getah bening berada di area tersebut dan dapat mengalami pembengkakan ketika terdapat masalah pada jaringan di sekitarnya.
Benjolan di ketiak tidak selalu menandakan kanker payudara. Infeksi dan berbagai kondisi lain juga dapat menyebabkan kelenjar getah bening membesar. Namun, benjolan yang menetap, semakin besar, atau muncul bersamaan dengan perubahan pada payudara sebaiknya diperiksakan.
Selain mengenali gejala, memahami faktor risiko juga dapat meningkatkan kewaspadaan. Beberapa faktor tidak dapat diubah, seperti usia, jenis kelamin, serta riwayat keluarga.
7 Pantangan Kanker Payudara yang Perlu Diperhatikan
Memahami pantangan kanker payudara bukan berarti Anda harus menghindari semua jenis makanan atau mengikuti pola makan yang sangat ketat.
Fokus utamanya adalah membatasi makanan yang kurang mendukung kebutuhan tubuh selama pengobatan, sekaligus memilih makanan yang lebih aman dan bernutrisi.
Baca juga: Kebiasaan Hidup Sehat: Apa yang Bisa Dilakukan untuk Atasi Penyakit Kronis?
Berikut tujuh pantangan yang sebaiknya diperhatikan:
1. Mengonsumsi Makanan Mentah atau Setengah Matang
Pasien kanker dapat mengalami penurunan daya tahan tubuh, terutama ketika menjalani kemoterapi yang dapat menurunkan jumlah sel darah putih. Kondisi tersebut membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.
Makanan mentah atau setengah matang berisiko membawa bakteri, virus, maupun parasit yang dapat menyebabkan infeksi. Jika terjadi ketika kondisi tubuh sedang lemah, infeksi dapat mengganggu proses pengobatan dan pemulihan.
Beberapa makanan yang sebaiknya dihindari atau dipastikan matang sempurna meliputi:
- Daging dan unggas yang masih mentah atau kurang matang.
- Ikan dan makanan laut mentah, termasuk sushi atau tiram mentah.
- Telur setengah matang.
- Sayuran mentah yang kebersihannya tidak terjamin.
- Produk susu atau minuman yang belum melalui proses pasteurisasi.
2. Terlalu Banyak Mengonsumsi Makanan Tinggi Gula
Makanan tinggi gula tambahan sebaiknya dibatasi selama menjalani pengobatan kanker. Jenis makanan ini umumnya memberikan banyak kalori, tapi relatif sedikit zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan kondisi dan mendukung pemulihan.
Asupan gula berlebih juga dapat meningkatkan berat badan. Hal ini menjadi perhatian terutama jika pasien sudah memiliki risiko akan kelebihan berat badan atau obesitas.
Baca juga: Bahaya Obesitas: Penyebab dan Solusi untuk Mengatasinya
Contoh makanan dan minuman yang sebaiknya dibatasi antara lain:
- Soda dan minuman manis kemasan.
- Permen dan cokelat dengan banyak gula tambahan.
- Donat dan kue manis.
- Es krim.
- Cookies dan kue kering.
- Minuman dengan tambahan sirup atau gula dalam jumlah tinggi.
Pilihan yang lebih baik adalah memperoleh karbohidrat dari makanan bernutrisi, seperti buah, sayuran, oatmeal, dan biji-bijian utuh.
3. Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan yang Digoreng
Makanan yang digoreng umumnya mengandung lebih banyak lemak dan kalori dibandingkan makanan yang diolah dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang secara tepat.
Bagi pasien yang sedang menjalani kemoterapi, makanan berminyak dapat terasa lebih berat bagi tubuh dan berpotensi memperburuk keluhan seperti mual atau muntah.
Sebagai alternatif, pilih metode memasak yang membutuhkan lebih sedikit minyak, seperti merebus, mengukus, atau menumis dengan minyak secukupnya. Cara ini juga dapat mempertahankan kualitas pola makan secara keseluruhan.
4. Mengonsumsi Daging Merah dan Daging Olahan Secara Berlebihan
Daging merah seperti daging sapi tetap dapat menjadi sumber protein dan zat besi. Namun, konsumsinya sebaiknya tidak berlebihan.
Daging olahan seperti sosis, nugget, dan kornet biasanya mengandung lebih banyak garam serta berbagai bahan tambahan. Sementara itu, daging merah yang dimasak pada suhu sangat tinggi, terutama hingga gosong, dapat menghasilkan senyawa seperti heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs).
Oleh karena itu, perhatikan jenis dan cara pengolahannya. Dengan begitu, kebutuhan protein tetap dapat terpenuhi tanpa terlalu bergantung pada daging merah atau makanan olahan.
5. Mengonsumsi Junk Food Terlalu Sering
Burger, pizza, hot dog, dan jenis makanan cepat saji lainnya sebaiknya tidak menjadi menu utama selama menjalani pengobatan kanker payudara. Makanan tersebut umumnya tinggi garam, gula, lemak jenuh, dan lemak trans, tapi tidak selalu memberikan cukup vitamin, mineral, serta serat.
Selain itu, kandungan lemak yang tinggi dapat membuat keluhan mual atau muntah terasa lebih berat pada sebagian pasien yang sedang menjalani kemoterapi.
Pola makan tersebut bantu menyediakan serat, vitamin, mineral, protein, dan berbagai zat gizi yang lebih dibutuhkan tubuh.
6. Mengonsumsi Ikan dengan Kandungan Merkuri Tinggi
Ikan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan pasien kanker payudara. Bahkan, ikan tertentu merupakan sumber protein dan lemak omega-3 yang baik. Namun, jenis ikan perlu diperhatikan agar asupan merkuri tidak terlalu tinggi.
Merkuri dalam jumlah tinggi dapat mengganggu fungsi sistem saraf dan organ tubuh lainnya. Oleh sebab itu, sebaiknya pilih ikan dengan kandungan merkuri lebih rendah dan konsumsi secara bervariasi.
Beberapa ikan yang perlu dibatasi karena cenderung mengandung merkuri lebih tinggi antara lain:
- Marlin.
- Ikan todak atau swordfish.
- Makarel jenis tertentu.
- Tuna jenis tertentu.
Pasien juga dapat mendiskusikan jumlah konsumsi yang sesuai dengan dokter atau ahli gizi.
7. Mengonsumsi Alkohol dan Makanan yang Tidak Sesuai dengan Terapi
Alkohol termasuk hal yang sebaiknya dihindari oleh pasien kanker payudara. Selain tidak memberikan zat gizi penting, alkohol dapat menyebabkan dehidrasi dan berpotensi berinteraksi dengan obat tertentu.
Selain alkohol, pasien juga perlu berhati-hati terhadap makanan atau minuman tertentu yang dapat berinteraksi dengan pengobatan. Salah satunya adalah konsumsi kedelai dalam jumlah sangat besar pada pasien dengan kanker payudara yang sensitif terhadap hormon.
Kedelai, tahu, tempe, susu kedelai, dan edamame sebenarnya merupakan sumber protein yang bernutrisi. Kandungan isoflavonnya memiliki aktivitas yang menyerupai estrogen, tapi konsumsi kedelai dalam jumlah yang wajar masih diperbolehkan.
Bukan Berarti Semua Makanan Harus Dihindari
Memiliki kanker payudara bukan berarti pasien harus membatasi makanan secara berlebihan. Tubuh tetap membutuhkan energi dan zat gizi yang cukup untuk mempertahankan berat badan, mendukung fungsi tubuh, serta membantu proses pemulihan selama pengobatan.
Pilihan makanan yang sebaiknya lebih sering dimasukkan ke dalam menu antara lain:
- Sayuran: bayam, kangkung, sawi, brokoli, kembang kol, dan kubis.
- Buah: apel, pir, anggur, dan buah lainnya sesuai toleransi tubuh.
- Protein: ikan, telur matang, kacang-kacangan, serta sumber protein lain sesuai kebutuhan.
- Karbohidrat: oatmeal, quinoa, roti gandum utuh, dan sumber biji-bijian utuh lainnya.
- Serat: sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.
Jika sedang mengalami efek samping seperti mual, muntah, sulit makan, diare, atau penurunan berat badan, kebutuhan makanan dapat berubah. Konsultasikan menu dengan dokter atau ahli gizi agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi tanpa mengganggu pengobatan.
Jika Anda berencana menjalani pengobatan kanker payudara di Malaysia, Medtrip sebagai medical concierge dapat memfasilitasi perjalanan medis Anda, mulai dari menemukan rumah sakit dan dokter yang sesuai, membantu proses konsultasi, hingga mendampingi kebutuhan selama menjalani pengobatan.
Baca juga: 5 Alasan Memilih Medtrip sebagai Mitra Saat Berobat di Luar Negeri
Dengan begitu, Anda dapat lebih fokus pada proses perawatan tanpa harus mengurus berbagai kebutuhan medis seorang diri. Kontak Medtrip untuk konsultasi sekarang!