Hubungi Kami

Apa Ciri-Ciri Tumor Payudara yang Perlu Anda Waspadai?

tumor payudara

Tumor payudara merupakan kondisi yang dapat menimbulkan berbagai perubahan pada payudara, mulai dari munculnya benjolan hingga perubahan pada puting dan kulit. 

Meski tidak semua benjolan menandakan kanker, mengenali perubahan yang tidak biasa sejak awal tetap penting agar tidak berkembang menjadi kanker. Berikut ulasan seputar tumor payudara, hingga ciri-ciri yang perlu Anda waspadai!

Apa Itu Tumor Payudara?

Tumor payudara adalah pertumbuhan sel yang tidak normal pada jaringan payudara, termasuk kelenjar, jaringan ikat, maupun saluran ASI. Pertumbuhan sel tersebut dapat membentuk benjolan dengan karakteristik yang berbeda-beda. 

Ada tumor yang bersifat jinak dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain, tapi ada pula tumor ganas yang merupakan kanker dan dapat berkembang lebih agresif.

Penting untuk dipahami bahwa menemukan benjolan pada payudara tidak otomatis berarti seseorang terkena kanker. 

Beberapa kondisi jinak juga dapat menyebabkan benjolan, perubahan tekstur, nyeri, atau keluarnya cairan dari puting. Meski demikian, perubahan pada payudara yang baru muncul atau terasa berbeda dari biasanya tetap perlu diperiksa oleh tenaga medis.

Tumor Payudara Jinak dan Ganas

Secara umum, tumor payudara dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu:

1. Tumor Payudara Jinak

Tumor jinak umumnya berkembang lebih lambat. Pada kondisi tertentu, pertumbuhannya dapat berhenti atau bahkan mengecil. Tumor jenis ini juga tidak menyerang jaringan di sekitarnya dan tidak menyebar ke organ tubuh lain.

Meski demikian, tumor jinak bukan berarti selalu tidak menimbulkan masalah. Benjolan yang semakin besar dapat memberikan tekanan pada jaringan, saraf, atau pembuluh darah di sekitarnya sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman atau keluhan tertentu.

Penyebab pasti sebagian tumor payudara jinak belum diketahui. Namun, perubahan kadar hormon reproduksi dapat berperan dalam kemunculannya. Beberapa jenis yang cukup umum antara lain:

  • Fibroadenoma: benjolan yang biasanya terasa padat, kenyal, mudah digerakkan, dan umumnya tidak sakit. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada wanita berusia 15 – 35 tahun.
  • Fibrokistik payudara: perubahan pada jaringan payudara yang dapat menyebabkan payudara terasa nyeri, perih, atau membengkak, terutama menjelang menstruasi. Keluhan biasanya membaik setelah menstruasi dimulai.
  • Kista payudara: kantung berisi cairan yang dapat muncul pada salah satu atau kedua payudara. Beberapa kista berada cukup dalam sehingga tidak selalu dapat terlihat atau diraba dari permukaan.
  • Papiloma intraduktal: benjolan kecil menyerupai kutil yang tumbuh di dalam saluran susu, terutama di dekat puting. Kondisi ini biasanya tidak menyebabkan nyeri, tetapi dapat memicu keluarnya cairan dari puting.

Walaupun termasuk jinak, beberapa kondisi tetap perlu dipantau. Sebagai contoh, papiloma intraduktal yang berjumlah banyak dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.

2. Tumor Payudara Ganas

Tumor ganas pada payudara merupakan kanker yang terjadi ketika sel mengalami perubahan atau mutasi gen sehingga tumbuh dan berkembang secara tidak terkendali. 

Berbeda dari tumor jinak, kanker payudara dapat menyerang jaringan di sekitar lokasi awal pertumbuhan dan berpotensi menyebar ke bagian tubuh lain.

Beberapa jenis kanker payudara yang umum meliputi:

  • Karsinoma duktal invasif: bermula dari saluran susu, kemudian dapat menyebar ke jaringan payudara di sekitarnya hingga organ lain.
  • Karsinoma duktal in situ (DCIS): berkembang di dalam saluran air susu dan belum menyebar keluar dari saluran tersebut. Kondisi ini termasuk kanker payudara stadium 0.
  • Karsinoma lobular invasif: bermula dari kelenjar penghasil susu dan dapat menyebar ke kelenjar getah bening maupun bagian tubuh lainnya.

Perbedaan antara tumor jinak dan ganas membuat pemeriksaan terhadap benjolan atau perubahan payudara menjadi hal yang penting. 

Stadium Kanker Payudara

Jika pemeriksaan menunjukkan adanya kanker, dokter perlu menentukan stadium penyakit. Stadium menggambarkan seberapa jauh kanker telah berkembang dan apakah sel kanker sudah menyebar dari lokasi awalnya.

Penentuan stadium umumnya menggunakan sistem TNM, yaitu:

  • T (Tumor): menunjukkan ukuran dan perkembangan tumor utama pada payudara.
  • N (Nodes): menunjukkan apakah kanker telah melibatkan kelenjar getah bening di sekitar payudara.
  • M (Metastasis): menunjukkan apakah kanker telah menyebar ke organ tubuh yang jauh dari payudara.

Informasi mengenai stadium sangat penting untuk menentukan pilihan pengobatan dan membantu dokter memperkirakan kemungkinan perjalanan penyakit. Dengan mengetahui stadium, dokter dapat menyesuaikan strategi pengobatan berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

1. Stadium 0: Kanker Masih Terbatas di Tempat Asalnya

Stadium 0 merupakan tahap paling awal. Pada tahap ini, sel kanker masih berada di tempat asalnya dan belum menginvasi jaringan payudara di sekitarnya.

Salah satu contohnya adalah Ductal Carcinoma In Situ (DCIS). Sel abnormal pada kondisi ini masih berada di dalam saluran susu dan belum menembus keluar menuju jaringan payudara lainnya.

Kanker yang ditemukan pada stadium ini umumnya memiliki prognosis yang sangat baik. Penanganan yang tepat juga dapat mencegah sel abnormal berkembang menjadi kanker invasif.

2. Stadium I dan II: Tumor Masih Relatif Terbatas

Pada stadium I dan II, kanker sudah berkembang menjadi tumor invasif, tapi penyebarannya masih relatif terbatas. Ukuran tumor dapat bervariasi, dan pada beberapa kondisi kanker sudah melibatkan kelenjar getah bening di sekitar payudara, terutama di area ketiak.

Pada tahap ini, kanker belum menunjukkan penyebaran jauh ke organ seperti hati, paru-paru, tulang, atau otak. Penanganan dapat melibatkan beberapa metode, seperti operasi, radioterapi, kemoterapi, terapi hormon, terapi target, atau kombinasi beberapa jenis terapi, tergantung karakteristik kanker.

Kanker yang ditemukan pada stadium awal umumnya memiliki peluang penanganan yang lebih baik dibandingkan kanker yang sudah menyebar jauh. Inilah alasan deteksi dini menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan payudara.

3. Stadium III: Kanker Sudah Lebih Lanjut Secara Lokal

Pada stadium III, kanker dapat berukuran lebih besar atau telah menyebar lebih luas di sekitar payudara. Sel kanker juga dapat melibatkan sejumlah kelenjar getah bening di sekitar payudara.

Pada kondisi tertentu, kanker dapat memengaruhi kulit payudara atau otot di bawah payudara. Stadium ini sering disebut sebagai kanker stadium lanjut lokal, sebab penyakit sudah berkembang cukup jauh di area sekitar payudara tetapi belum dikategorikan sebagai metastasis jauh.

Pengobatan biasanya membutuhkan kombinasi beberapa metode. Dokter dapat mempertimbangkan kemoterapi atau terapi sistemik lainnya, kemudian operasi dan radioterapi sesuai kondisi pasien serta karakteristik kanker.

4. Stadium IV: Kanker Telah Menyebar ke Organ Lain

Stadium IV merupakan tahap ketika kanker telah mengalami metastasis, yaitu menyebar dari payudara dan kelenjar getah bening regional menuju organ tubuh yang lebih jauh.

Organ yang dapat menjadi lokasi penyebaran antara lain tulang, paru-paru, hati, dan otak.

Pada tahap ini, pengobatan umumnya bertujuan mengendalikan pertumbuhan kanker, memperlambat perkembangan penyakit, memperpanjang harapan hidup, serta mempertahankan kualitas hidup pasien. 

Terapi yang dapat digunakan meliputi kemoterapi, terapi target, imunoterapi, terapi hormon, atau kombinasi beberapa metode sesuai jenis kanker.

Bagaimana Dokter Menentukan Stadium Kanker Payudara?

Penentuan stadium tidak hanya berdasarkan ukuran benjolan yang dapat diraba. Dokter perlu menggabungkan hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan pencitraan, serta pemeriksaan jaringan bila diperlukan.

Beberapa pemeriksaan yang dapat digunakan antara lain:

1. Mammografi

Mammografi merupakan pemeriksaan menggunakan sinar-X khusus untuk menghasilkan gambaran jaringan payudara. Pemeriksaan ini dapat membantu menemukan kelainan yang belum dapat dirasakan melalui pemeriksaan fisik.

Mammografi juga dapat memperlihatkan perubahan tertentu pada jaringan payudara, termasuk kelompok kalsifikasi (cluster calcification) yang dapat menjadi petunjuk adanya kelainan dan perlu dievaluasi lebih lanjut.

2. USG Payudara

USG menggunakan gelombang suara untuk melihat struktur jaringan payudara. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter mengetahui karakteristik suatu benjolan, misalnya apakah benjolan berisi cairan, berupa jaringan padat, atau memiliki komponen campuran.

USG juga sering digunakan sebagai pemeriksaan tambahan setelah ditemukan benjolan melalui pemeriksaan fisik atau mammografi.

3. Biopsi

Biopsi merupakan prosedur untuk mengambil sampel jaringan dari area yang dicurigai. Sampel tersebut kemudian diperiksa di laboratorium untuk mengetahui apakah terdapat sel kanker.

Biopsi memiliki peran penting dalam memastikan diagnosis. Pemeriksaan ini juga dapat membantu dokter mengetahui jenis kanker dan karakteristik sel kanker sehingga pilihan terapi dapat ditentukan dengan lebih tepat.

4. Pemeriksaan Tambahan

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lain untuk mendapatkan gambaran penyakit secara lebih menyeluruh. Salah satunya adalah MRI payudara, terutama jika dibutuhkan informasi tambahan mengenai jaringan payudara.

Baca juga: Biaya PET Scan: Lebih Murah di Indonesia atau Malaysia?

Tes darah atau pemeriksaan pencitraan lainnya juga dapat dilakukan sesuai kebutuhan klinis dan dugaan penyebaran penyakit. Jenis pemeriksaan tidak selalu sama untuk setiap pasien, sebab dokter akan menyesuaikannya dengan gejala, hasil pemeriksaan awal, faktor risiko, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Ciri-Ciri Tumor Payudara yang Perlu Diwaspadai

Ciri-ciri tumor payudara dapat berbeda pada setiap orang, tergantung pada jenis benjolan, lokasi, ukuran, serta apakah pertumbuhan sel tersebut bersifat jinak atau ganas. 

Pada tahap awal, perubahan tertentu bahkan bisa sangat samar sehingga mudah terlewatkan. Berikut tujuh perubahan yang sebaiknya tidak diabaikan:

1. Benjolan Terasa Keras dan Sulit Digerakkan

Benjolan baru pada payudara atau area ketiak merupakan salah satu perubahan yang paling perlu diperhatikan. Benjolan yang berkaitan dengan keganasan sering kali terasa keras, padat, memiliki bentuk atau tepi yang tidak beraturan, serta sulit digerakkan ketika disentuh. Sensasinya dapat terasa seperti benjolan yang melekat pada jaringan di sekitarnya.

Perbedaan karakter benjolan secara umum dapat memberikan gambaran awal:

  • Benjolan jinak: sering kali memiliki batas yang lebih jelas, terasa kenyal atau lunak, dan relatif mudah digerakkan.
  • Benjolan yang perlu dicurigai: dapat terasa keras, memiliki batas yang kurang jelas, dan sulit digerakkan seolah menyatu dengan jaringan di sekitarnya.
  • Kista: biasanya terasa lebih lunak, bulat, dan dapat bergerak ketika diraba. Ukurannya juga dapat berubah mengikuti siklus menstruasi.
  • Fibroadenoma: umumnya terasa kenyal, permukaannya licin, dan dapat bergerak dengan mudah saat disentuh.

Benjolan juga tidak selalu berada tepat di tengah payudara. Perubahan dapat ditemukan di bagian luar payudara hingga area ketiak. Oleh sebab itu, pemeriksaan sebaiknya mencakup seluruh area payudara dan ketiak, bukan hanya bagian yang sebelumnya pernah memiliki keluhan.

2. Tekstur Kulit Payudara Berubah

Perubahan pada permukaan kulit dapat menjadi tanda lain yang perlu diperhatikan. Kulit payudara yang sebelumnya tampak normal dapat mengalami penebalan, kemerahan, bersisik, atau berubah tekstur sehingga terlihat seperti permukaan kulit jeruk. Kondisi ini dikenal sebagai peau d’orange.

Perubahan tersebut dapat terjadi ketika sel kanker mengganggu atau menyumbat saluran getah bening yang berada di kulit payudara. Akibatnya, cairan dapat menumpuk dan membuat permukaan kulit tampak memiliki lekukan-lekukan kecil.

Beberapa perubahan kulit yang perlu mendapat perhatian antara lain:

  • Kulit terlihat seperti kulit jeruk atau memiliki pori-pori yang tampak lebih menonjol.
  • Sebagian area kulit menjadi lebih tebal dibandingkan bagian lainnya.
  • Muncul kemerahan yang tidak kunjung membaik.
  • Kulit terasa atau terlihat bersisik.
  • Terjadi perubahan pada permukaan kulit yang sebelumnya tidak ada.
  • Muncul luka atau ruam yang menetap, terutama di sekitar puting.

3. Puting Tertarik ke Dalam atau Mengalami Perubahan

Perubahan pada puting dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan, terutama jika muncul secara tiba-tiba dan berbeda dari kondisi normal sebelumnya. Salah satu contohnya adalah puting yang sebelumnya menonjol kemudian tertarik ke dalam tanpa penyebab yang jelas.

Kondisi tersebut disebut retraksi puting. Perubahan posisi puting juga dapat terjadi dan membuat bentuk kedua payudara terlihat berbeda dari biasanya.

Selain posisi puting, perhatikan pula perubahan lain seperti:

  • Puting tiba-tiba masuk ke dalam.
  • Puting terasa nyeri atau lebih sensitif tanpa penyebab yang jelas.
  • Kulit di sekitar puting tampak kemerahan atau bersisik.
  • Muncul luka atau ruam yang tidak kunjung sembuh.
  • Bentuk atau posisi puting yang berubah secara tiba-tiba.

4. Keluar Cairan dari Puting Selain ASI

Keluarnya cairan dari puting tidak selalu berarti kanker. Beberapa kondisi jinak, termasuk papiloma intraduktal, juga dapat menyebabkan cairan keluar dari puting. Namun, cairan yang muncul secara spontan dan bukan berkaitan dengan menyusui perlu mendapatkan perhatian lebih.

Cairan yang perlu diwaspadai terutama jika:

  • Keluar tanpa perlu menekan puting.
  • Hanya berasal dari salah satu payudara.
  • Berwarna merah atau mengandung darah.
  • Disertai benjolan di sekitar payudara atau puting.
  • Muncul berulang kali dan tidak diketahui penyebabnya.

Cairan dari puting dapat memiliki berbagai warna dan penyebab. Oleh sebab itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa cairan tertentu pasti merupakan tanda kanker. Dokter dapat menilai karakter cairan, memeriksa payudara, serta menentukan apakah pemeriksaan tambahan diperlukan.

5. Payudara Membengkak, Kemerahan, atau Terasa Panas

Perubahan pada ukuran dan kondisi permukaan payudara juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Salah satu payudara dapat mengalami pembengkakan sehingga terlihat lebih besar dibandingkan sisi lainnya. Kulit di area tersebut juga dapat tampak kemerahan atau terasa lebih hangat.

Perubahan seperti ini tidak selalu disebabkan oleh keganasan. Infeksi payudara juga dapat menyebabkan kemerahan, rasa panas, bengkak, dan nyeri. Namun, pembengkakan yang tidak biasa, terutama jika muncul tanpa penyebab yang jelas atau tidak membaik, sebaiknya tidak diabaikan.

Perhatikan apabila perubahan tersebut disertai:

  • Pembengkakan yang hanya terjadi pada sebagian atau satu sisi payudara.
  • Kemerahan yang menetap.
  • Kulit terasa lebih hangat dibandingkan area sekitarnya.
  • Payudara tiba-tiba terlihat lebih besar atau berubah bentuk.
  • Perubahan terus bertahan meskipun tidak sedang mengalami perubahan hormonal yang biasa.

6. Bentuk dan Ukuran Payudara Berubah Secara Mendadak

Payudara dapat mengalami perubahan bentuk atau ukuran sepanjang kehidupan. Perubahan hormon saat menstruasi, kehamilan, menyusui, atau masa menopause dapat memengaruhi jaringan payudara. 

Namun, perubahan yang muncul secara tiba-tiba tanpa penjelasan yang jelas perlu diperhatikan.

Misalnya, salah satu payudara tiba-tiba terlihat lebih besar, bentuknya berubah, atau muncul bagian yang tampak tertarik ke dalam. Perubahan kontur tersebut dapat menjadi tanda adanya perubahan pada jaringan di bawah kulit.

Saat melakukan pemeriksaan mandiri, perhatikan apakah:

  • Salah satu payudara tiba-tiba menjadi lebih besar atau lebih kecil.
  • Kontur payudara berubah tanpa penyebab yang jelas.
  • Muncul cekungan pada bagian tertentu.
  • Ada area kulit atau jaringan yang terlihat tertarik ke dalam.
  • Bentuk kedua payudara menjadi lebih asimetris secara mendadak.

7. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening di Ketiak atau Dekat Tulang Selangka

Tidak semua tanda awal masalah pada payudara muncul langsung di payudara. Pembengkakan atau benjolan di area ketiak maupun sekitar tulang selangka juga dapat menjadi perubahan yang perlu diperiksa.

Area tersebut memiliki kelenjar getah bening yang berhubungan dengan sistem limfatik tubuh. Pada kanker payudara, sel abnormal dapat menyebar ke kelenjar getah bening. Dalam kondisi tertentu, pembengkakan di area tersebut bahkan dapat terlihat atau terasa sebelum benjolan pada payudara cukup besar untuk disadari.

Namun, pembengkakan kelenjar getah bening tidak selalu berarti kanker. Infeksi atau kondisi lain juga dapat menyebabkan kelenjar membesar. Penilaian dokter diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Segera perhatikan apabila terdapat:

  • Benjolan baru di ketiak yang tidak kunjung menghilang.
  • Pembengkakan di sekitar tulang selangka.
  • Benjolan yang muncul bersamaan dengan perubahan pada payudara.
  • Pembengkakan yang menetap atau semakin membesar.

Kapan Perubahan pada Payudara Perlu Segera Diperiksa?

Tidak semua perubahan pada payudara merupakan keadaan darurat, tetapi perubahan yang baru, menetap, atau semakin jelas sebaiknya tidak ditunda untuk diperiksakan. Terlebih lagi jika perubahan tersebut tidak sesuai dengan pola normal tubuh kamu.

Beberapa tanda yang patut menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan dokter meliputi:

  • Benjolan tetap terasa setelah menstruasi selesai.
  • Benjolan semakin besar atau mengalami perubahan karakter.
  • Payudara berubah ukuran atau bentuk secara mendadak.
  • Puting tiba-tiba tertarik ke dalam.
  • Keluar cairan dari puting secara spontan, terutama jika mengandung darah.
  • Kulit payudara menebal atau menyerupai kulit jeruk.
  • Kemerahan, ruam, luka, atau rasa gatal di sekitar puting tidak kunjung sembuh.
  • Muncul pembengkakan atau benjolan di ketiak maupun sekitar tulang selangka.

Cara Mencegah Penyakit Tumor Payudara Sejak Dini

Pencegahan yang efektif menggabungkan pola hidup sehat, menjaga keseimbangan hormon, serta melakukan deteksi dini secara rutin. Berikut tujuh langkah yang bisa mulai diterapkan:

1. Menjaga Berat Badan Tetap Ideal

Menjaga berat badan ideal merupakan salah satu cara penting untuk menurunkan risiko tumor payudara, terutama setelah memasuki masa menopause. Wanita yang mengalami obesitas setelah menopause diketahui memiliki risiko kanker payudara sekitar 20% – 40% lebih tinggi dibandingkan wanita dengan berat badan normal.

Hal ini berkaitan dengan jaringan lemak yang menghasilkan hormon estrogen. Setelah menopause, sebagian besar estrogen diproduksi oleh jaringan lemak. Jika jumlah lemak berlebih, kadar estrogen dalam tubuh juga dapat meningkat sehingga berpotensi memicu pertumbuhan sel abnormal pada payudara.

Agar berat badan tetap terjaga, lakukan beberapa langkah berikut:

  • Konsumsi makanan dengan gizi seimbang sesuai kebutuhan kalori harian.
  • Batasi makanan tinggi gula, lemak jenuh, dan makanan ultra-proses.
  • Perbanyak aktivitas fisik setiap hari, meski dimulai dari kegiatan sederhana seperti berjalan kaki.
  • Pantau berat badan dan lingkar pinggang secara berkala.

Baca juga: Bahaya Obesitas: Penyebab dan Solusi untuk Mengatasinya

2. Menerapkan Pola Makan Sehat dan Kaya Antioksidan

Pola makan memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan tubuh, termasuk kesehatan payudara. Makanan yang kaya vitamin, mineral, serat, dan antioksidan membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas yang dapat memicu perubahan sel.

Fokuslah pada makanan alami dan minim proses sebagai menu harian.

Makanan yang Disarankan

Beberapa pilihan makanan yang baik untuk kesehatan payudara meliputi:

  • Sayuran hijau seperti bayam, brokoli, dan sawi.
  • Buah-buahan berwarna cerah, misalnya jeruk, stroberi, blueberry, dan pepaya.
  • Kacang-kacangan dan polong-polongan, termasuk kacang kedelai.
  • Biji-bijian utuh seperti oat, quinoa, atau beras merah.
  • Ikan dan ayam tanpa kulit sebagai sumber protein rendah lemak.
  • Minyak sehat, seperti minyak zaitun atau minyak kanola.

Kandungan serat pada sayur, buah, dan biji-bijian juga membantu menjaga keseimbangan hormon dalam tubuh.

3. Rutin Berolahraga dan Aktif Bergerak

Aktivitas fisik secara rutin terbukti membantu menurunkan risiko kanker payudara. Penelitian menunjukkan bahwa wanita yang aktif bergerak memiliki risiko sekitar 20% lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang beraktivitas fisik.

Olahraga membantu menjaga berat badan, mengontrol kadar hormon, meningkatkan sistem imun, dan mengurangi peradangan dalam tubuh.

Usahakan melakukan olahraga intensitas sedang selama 150 menit per minggu atau sekitar 2 jam 30 menit setiap minggu. Aktivitas tersebut dapat dibagi menjadi 30 menit selama lima hari.

Selain olahraga terjadwal, biasakan juga lebih banyak bergerak sepanjang hari, misalnya menggunakan tangga, berjalan saat menerima telepon, atau melakukan peregangan setiap beberapa jam jika bekerja di depan komputer.

Baca juga: 10 Kebiasaan Tidak Sehat dari Kecil yang Berdampak pada Kesehatan Saat Dewasa

4. Menghindari Rokok dan Membatasi Konsumsi Alkohol

Gaya hidup bebas rokok dan alkohol merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan payudara.

Merokok meningkatkan paparan berbagai zat kimia berbahaya yang dapat merusak sel tubuh. Risiko kanker payudara juga diketahui lebih tinggi pada wanita yang merokok dibandingkan yang tidak pernah merokok.

Beberapa penelitian menunjukkan:

  • Mantan perokok memiliki risiko sekitar 6% – 9% lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak pernah merokok.
  • Perokok aktif memiliki risiko yang bahkan lebih tinggi, sekitar 7% – 13%.

Jika masih merokok, mulailah mengurangi jumlah rokok secara bertahap hingga berhenti sepenuhnya.

Konsumsi alkohol juga berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Bahkan konsumsi sekitar satu gelas alkohol per hari dapat meningkatkan risiko sekitar 20%.

5. Menyusui dan Menjaga Keseimbangan Hormon

Keseimbangan hormon reproduksi juga berpengaruh terhadap kesehatan payudara. Salah satu cara alami yang dapat membantu adalah menyusui.

Menyusui sebagai Perlindungan Alami

Penelitian menunjukkan bahwa menyusui dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara hingga sekitar 20%. Bahkan wanita yang menyusui selama lebih dari 12 bulan juga diketahui memiliki risiko yang lebih rendah.

Manfaat ini diduga berkaitan dengan beberapa hal, seperti:

  • Membantu menyeimbangkan hormon reproduksi.
  • Mengurangi paparan hormon tertentu dalam jangka panjang.
  • Mendukung proses regenerasi sel pada jaringan payudara setelah menyusui selesai.

6. Rutin Melakukan Medical Check Up dan Deteksi Dini Payudara

Salah satu langkah pencegahan paling penting adalah rutin melakukan medical check up. Pemeriksaan kesehatan secara berkala bantu mendeteksi perubahan pada payudara sebelum gejala menjadi lebih jelas atau penyakit berkembang ke stadium lanjut.

Deteksi dini memberikan peluang penanganan yang jauh lebih baik. Studi yang dipublikasikan dalam The Lancet Oncology menunjukkan bahwa diagnosis kanker payudara pada stadium I memiliki angka kelangsungan hidup lima tahun lebih dari 90%, jauh lebih tinggi dibandingkan stadium IV yang berkisar 20% – 30%. 

Temuan ini menegaskan bahwa menemukan kelainan sedini mungkin dapat meningkatkan peluang pengobatan yang berhasil.

Lakukan SADARI Setiap Bulan

SADARI (Periksa Payudara Sendiri) merupakan cara sederhana yang dapat dilakukan di rumah.

Waktu terbaik melakukan SADARI adalah sekitar 7 – 10 hari setelah hari pertama menstruasi, ketika jaringan payudara tidak terlalu bengkak atau sensitif.

Langkah SADARI meliputi:

  • Berdiri di depan cermin untuk melihat perubahan bentuk atau ukuran payudara.
  • Mengangkat kedua lengan dan memperhatikan apakah ada cekungan atau perubahan kulit.
  • Meraba seluruh area payudara menggunakan tiga jari dengan gerakan memutar.
  • Memeriksa area ketiak untuk mendeteksi adanya benjolan atau pembengkakan.
  • Memastikan tidak ada cairan yang keluar dari puting.

Pemeriksaan ini membantu mengenali kondisi normal payudara sehingga perubahan baru lebih mudah disadari.

Lakukan SADANIS dan Pemeriksaan Penunjang

Selain SADARI, lakukan SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis) oleh dokter atau tenaga kesehatan sesuai jadwal yang dianjurkan.

Baca juga: Ketahui Kapan Anda Harus Check Up Kesehatan, Ini Dia 5 Tandanya!

Dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan penunjang berdasarkan usia dan faktor risiko, seperti:

  • USG payudara, terutama pada wanita dengan jaringan payudara yang lebih padat atau usia lebih muda.
  • Mammografi, umumnya direkomendasikan mulai usia 40 tahun atau lebih awal pada wanita dengan risiko tinggi.
  • Pemeriksaan lanjutan jika ditemukan benjolan atau perubahan yang memerlukan evaluasi lebih mendalam.

Medical check up secara rutin juga penting bagi wanita yang memiliki riwayat keluarga kanker payudara atau faktor risiko genetik, sehingga pemantauan dapat dilakukan lebih dini.

Jangan abaikan perubahan pada payudara dan segera lakukan pemeriksaan jika menemukan tanda yang tidak biasa. 

Jika membutuhkan medical check up atau pengobatan tumor payudara di Malaysia, Medtrip siap memfasilitasi melalui layanan medical concierge, mulai dari pemilihan rumah sakit dan dokter hingga pendampingan selama proses pengobatan agar lebih mudah dan nyaman. Kontak Medtrip untuk informasi selengkapnya!

Berita Terbaru