Kanker limfoma merupakan salah satu jenis kanker darah yang dapat menyerang sistem limfatik, terutama kelenjar getah bening. Kondisi ini perlu dikenali sejak dini, terutama jika muncul pembengkakan kelenjar yang tidak kunjung membaik atau disertai keluhan lain yang tidak biasa.
Memahami apa itu limfoma, penyebab dan gejalanya dapat membantu seseorang untuk lebih waspada dan tahu kapan harus periksa ke dokter. Berikut ulasannya, simak yuk!
Apa Itu Kanker Limfoma?
Kanker limfoma adalah kanker yang berasal dari limfosit, yaitu salah satu jenis sel darah putih yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, limfosit membantu tubuh melawan berbagai infeksi, termasuk yang disebabkan oleh bakteri dan virus.
Sel ini tidak hanya ditemukan di dalam aliran darah, tetapi juga tersebar di sejumlah bagian tubuh yang termasuk dalam sistem limfatik.
Beberapa lokasi tempat limfosit berada antara lain:
- Kelenjar getah bening.
- Limpa.
- Timus.
- Sumsum tulang.
- Saluran pencernaan.
- Jaringan limfatik lain yang tersebar di dalam tubuh.
Pada limfoma, limfosit mengalami perubahan dan berkembang secara tidak terkendali. Sel yang seharusnya tumbuh, membelah, dan mati sesuai siklus normal justru terus bertambah.
Akibatnya, sel abnormal dapat menumpuk di kelenjar getah bening maupun jaringan lain dan mengganggu fungsi tubuh.
Salah satu dampak yang paling mudah dikenali adalah pembengkakan kelenjar getah bening atau limfadenopati. Pembengkakan dapat muncul di leher, ketiak, selangkangan, atau area tubuh lain yang memiliki kelenjar getah bening.
Baca juga: Waspada! 8 Jenis Kanker dan Cara Mencegahnya
Jenis-Jenis Limfoma
Secara umum, limfoma dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin. Keduanya sama-sama berasal dari sel limfosit, tetapi memiliki karakteristik sel kanker yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat diketahui melalui pemeriksaan jaringan dengan mikroskop.
1. Limfoma Hodgkin
Limfoma Hodgkin merupakan jenis limfoma yang umumnya berkaitan dengan perubahan abnormal pada limfosit tipe B. Pada kondisi ini, limfosit B dapat berubah menjadi sel abnormal yang dikenal sebagai sel Reed-Sternberg.
Sel tersebut kemudian dapat berkembang dan menyebar melalui sistem limfatik. Pertumbuhan sel abnormal juga dapat mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan.
Limfoma Hodgkin relatif lebih jarang dibandingkan limfoma non-Hodgkin. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada kelompok dewasa muda, terutama sekitar usia 15 – 30 tahun, serta kelompok usia di atas 50 tahun.
2. Limfoma Non-Hodgkin
Limfoma non-Hodgkin merupakan kelompok limfoma yang jauh lebih beragam dan secara umum lebih sering ditemukan. Jenis ini dapat berasal dari limfosit yang berada di kelenjar getah bening, saluran limfe, maupun jaringan limfoid lainnya.
Pada kondisi tersebut, limfosit abnormal terus membelah tetapi tidak berkembang secara normal. Penumpukan sel ini dapat terjadi di kelenjar getah bening dan jaringan lain sehingga memicu gangguan pada berbagai organ.
Limfoma non-Hodgkin lebih banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut, terutama di atas 60 tahun. Beberapa jenisnya juga dapat berkembang secara agresif sehingga membutuhkan diagnosis dan penanganan yang cepat.
Apa Perbedaan Limfoma dan Leukemia?
Limfoma dan leukemia sama-sama termasuk kanker yang berkaitan dengan sel darah putih, tetapi keduanya tidak sama.
Perbedaan utamanya terletak pada lokasi awal perkembangan kanker. Leukemia umumnya bermula di sumsum tulang, tempat sel-sel darah diproduksi. Sementara itu, limfoma biasanya berkembang dari limfosit yang berada di sistem limfatik, terutama kelenjar getah bening.
Meski begitu, limfoma juga dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh. Hal tersebut membuat pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk mengetahui jenis, lokasi, dan tingkat perkembangan penyakit secara akurat.
Baca juga: Kenali Jenis-Jenis Kanker dan Waspadai Gejalanya Sebelum Menjalar
Tahapan Perkembangan Limfoma
Selain dibedakan berdasarkan jenisnya, limfoma juga dapat dikelompokkan berdasarkan seberapa jauh kanker telah menyebar. Stadium membantu dokter memahami tingkat perkembangan penyakit sekaligus menentukan pilihan penanganan yang sesuai.
Secara umum, pembagian stadium dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Stadium 1: kanker ditemukan pada satu kelenjar getah bening, satu kelompok kelenjar getah bening, atau satu organ.
- Stadium 2: kanker ditemukan pada dua atau lebih wilayah kelenjar getah bening atau telah menyebar ke organ dan kelenjar getah bening terdekat. Lokasinya masih berada pada sisi diafragma yang sama.
- Stadium 3: kanker telah ditemukan pada kelenjar getah bening di kedua sisi diafragma.
- Stadium 4: kanker telah menyebar ke beberapa bagian dari satu atau lebih organ atau jaringan. Pada tahap ini, penyakit tidak hanya memengaruhi kelenjar getah bening, tetapi dapat melibatkan organ seperti hati, paru-paru, atau tulang.
Penyebab Kanker Limfoma
Hingga saat ini, penyebab pasti kanker limfoma belum diketahui sepenuhnya. Limfoma terjadi ketika limfosit mengalami perubahan yang membuatnya tumbuh dan membelah secara tidak terkendali.
Penting untuk dipahami bahwa memiliki salah satu faktor risiko tidak berarti seseorang pasti akan mengalami limfoma. Sebaliknya, seseorang tanpa faktor risiko yang jelas juga tetap dapat mengalaminya. Berikut faktor-faktor peningkat risiko sebagai penyebab kanker limfoma:
1. Faktor Usia
Usia menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan jenis limfoma yang dapat dialami seseorang. Risiko tidak sama pada setiap kelompok usia dan dapat berbeda antara limfoma Hodgkin dengan limfoma non-Hodgkin.
Beberapa kelompok usia yang perlu lebih memperhatikan risikonya meliputi:
- Usia 60 tahun atau lebih: kelompok ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami limfoma non-Hodgkin.
- Usia 15 – 40 tahun: termasuk salah satu kelompok yang lebih berisiko mengalami limfoma Hodgkin.
- Usia di atas 55 tahun: kembali menjadi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap limfoma Hodgkin.
2. Sistem Kekebalan Tubuh yang Lemah
Sistem kekebalan tubuh berperan dalam mengenali dan mengendalikan sel yang tidak normal. Ketika fungsi sistem imun mengalami gangguan, kemampuan tubuh untuk mengawasi perubahan sel juga dapat ikut terpengaruh.
Kondisi yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh antara lain:
- HIV/AIDS, yang dapat mengganggu fungsi sistem imun.
- Penggunaan obat imunosupresan dalam jangka panjang, terutama obat yang menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh.
- Kondisi lain yang menyebabkan pertahanan tubuh tidak bekerja secara optimal.
Penurunan fungsi sistem imun tidak secara langsung berarti seseorang akan mengalami limfoma. Namun, kondisi tersebut dapat menciptakan keadaan yang membuat risiko penyakit tertentu, termasuk beberapa jenis limfoma, menjadi lebih tinggi.
Baca juga: Waspada! 8 Jenis Kanker dan Cara Mencegahnya
3. Penyakit Autoimun
Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Beberapa penyakit autoimun diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko limfoma.
Contoh penyakit autoimun yang dapat menjadi faktor risiko antara lain:
- Rheumatoid arthritis, yaitu penyakit yang terutama menyerang persendian dan dapat menyebabkan peradangan berkepanjangan.
- Sindrom Sjögren, yang dapat memengaruhi kelenjar penghasil air mata dan air liur.
- Lupus, yaitu penyakit autoimun yang dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh.
- Penyakit celiac, yaitu gangguan autoimun yang berkaitan dengan reaksi tubuh terhadap gluten.
Hubungan antara penyakit autoimun dan limfoma tidak berarti setiap orang yang memiliki penyakit autoimun akan mengalami kanker. Risiko dapat dipengaruhi oleh jenis penyakit, aktivitas peradangan, kondisi sistem kekebalan tubuh, serta faktor lain yang dimiliki seseorang.
4. Infeksi Tertentu
Beberapa jenis infeksi diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko limfoma. Infeksi tersebut dapat melibatkan virus maupun bakteri yang memengaruhi jaringan atau sistem kekebalan tubuh.
Beberapa di antaranya adalah:
- Epstein-Barr virus (EBV): virus yang dapat menginfeksi limfosit dan memiliki hubungan dengan beberapa jenis limfoma.
- Helicobacter pylori (H. pylori): bakteri yang dapat menginfeksi lambung dan dalam kondisi tertentu berkaitan dengan limfoma yang berkembang pada jaringan limfoid di lambung.
- Hepatitis C: infeksi virus yang terutama menyerang hati dan juga diketahui memiliki hubungan dengan beberapa jenis limfoma.
Oleh sebab itu, riwayat infeksi dapat menjadi informasi penting bagi dokter ketika mengevaluasi seseorang yang memiliki keluhan atau hasil pemeriksaan yang mengarah pada gangguan sistem limfatik.
5. Paparan dan Riwayat Kesehatan
Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko meliputi paparan benzene atau pestisida, pernah menjalani radioterapi, serta memiliki anggota keluarga dengan riwayat limfoma.
Riwayat keluarga tidak berarti penyakit ini pasti diwariskan secara langsung. Namun, adanya anggota keluarga yang pernah mengalami limfoma dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai risiko seseorang.
Sehingga Anda perlu melakukan screening kesehatan secara rutin untuk memastikan tidak ada risiko riwayat penyakit berbahaya yang diturunkan secara genetik.
Baca juga: Sekalian Liburan Akhir Tahun, Ini Dia Biaya Medical Check Up di Malaysia
Komplikasi Kanker Darah (Limfoma)
Selain menimbulkan gangguan pada sistem limfatik, limfoma juga dapat menyebabkan komplikasi, terutama ketika penyakit berkembang atau sistem kekebalan tubuh mengalami penurunan. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
- Infeksi: penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.
- Gangguan jantung dan paru-paru: limfoma maupun proses pengobatannya dapat meningkatkan risiko gangguan pada kedua organ tersebut.
- Kambuhnya penyakit: limfoma dapat kembali muncul meskipun pasien telah menjalani pengobatan.
- Infertilitas: kemoterapi atau radioterapi dapat memengaruhi kesuburan, baik untuk sementara maupun secara permanen.
- Kanker baru: beberapa tahun setelah menjalani pengobatan, terutama radioterapi, terdapat kemungkinan munculnya kanker lain. Risiko ini antara lain dapat berkaitan dengan kanker payudara dan paru-paru.
Risiko komplikasi berbeda pada setiap pasien dan dipengaruhi oleh jenis limfoma, tingkat perkembangan penyakit, kondisi kesehatan, serta terapi yang diberikan. Oleh sebab itu, pemantauan rutin selama dan setelah pengobatan tetap penting.
Diagnosis Limfoma Sebelum Pengobatan
Proses diagnosis biasanya dimulai dengan wawancara medis mengenai gejala, riwayat penyakit, dan kondisi kesehatan pasien. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan fisik, terutama untuk mencari pembengkakan kelenjar getah bening atau pembesaran organ tertentu.
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan meliputi:
1. Biopsi Kelenjar Getah Bening
Biopsi dilakukan dengan mengambil sampel jaringan dari kelenjar getah bening atau jaringan yang dicurigai. Sampel kemudian diperiksa di laboratorium menggunakan mikroskop untuk mengetahui keberadaan sel kanker sekaligus menentukan jenis limfoma.
Pemeriksaan jaringan ini menjadi bagian paling penting dalam memastikan diagnosis, sebab karakteristik sel kanker dapat membantu dokter membedakan jenis limfoma dan menentukan terapi yang sesuai.
2. Tes Darah
Tes darah digunakan untuk melihat kondisi tubuh secara keseluruhan sekaligus membantu dokter menilai fungsi organ sebelum pengobatan. Pemeriksaan dapat meliputi:
- Tes darah lengkap, untuk melihat jumlah dan kondisi sel darah.
- Tes kimia darah, untuk menilai fungsi organ seperti hati dan ginjal.
- Lactate dehydrogenase (LDH), yang dapat meningkat pada sebagian pasien dengan limfoma dan membantu dokter menilai kondisi penyakit.
3. Pemindaian
Pemeriksaan pencitraan membantu dokter melihat lokasi, ukuran, serta kemungkinan penyebaran limfoma. Jenis pemeriksaan dapat berupa Rontgen, USG, CT scan, MRI, atau PET scan.
Hasil pemindaian kemudian dapat digunakan bersama hasil biopsi dan pemeriksaan lainnya untuk menentukan stadium penyakit serta membantu menyusun rencana terapi.
Baca juga: Apa Itu PET Scan? Berikut 5 Hal yang Perlu Anda Ketahui!
4. Pemeriksaan Sumsum Tulang
Pada kondisi tertentu, dokter dapat melakukan pemeriksaan sumsum tulang menggunakan jarum untuk mengambil sampel jaringan dan cairan sumsum tulang. Sampel tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui apakah terdapat sel limfoma yang telah mencapai sumsum tulang.
Pemeriksaan ini tidak selalu diperlukan pada setiap pasien dan biasanya dilakukan sesuai kebutuhan berdasarkan jenis limfoma serta hasil pemeriksaan sebelumnya.
Pengobatan Kanker Limfoma di Malaysia
Setelah diagnosis dan stadium diketahui, dokter akan menentukan terapi berdasarkan karakteristik penyakit dan kondisi pasien. Beberapa pilihan pengobatan yang dapat digunakan antara lain:
1. Kemoterapi
Kemoterapi menggunakan obat untuk menghancurkan atau menghambat pertumbuhan sel kanker. Obat dapat diberikan melalui infus maupun dalam bentuk obat minum, tergantung jenis terapi yang dipilih.
Beberapa obat yang dapat digunakan dalam penanganan limfoma antara lain vincristine dan epirubicin. Regimen yang diberikan tidak selalu sama untuk setiap pasien sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan jenis dan karakteristik kanker.
2. Radioterapi
Radioterapi menggunakan radiasi berenergi tinggi untuk merusak sel kanker pada area tertentu. Terapi ini dapat digunakan ketika limfoma berada pada lokasi yang membutuhkan penanganan terarah atau dikombinasikan dengan metode pengobatan lainnya.
Dokter akan menentukan area yang perlu mendapatkan radiasi serta dosis yang sesuai berdasarkan kondisi penyakit.
3. Imunoterapi dan Terapi Target
Imunoterapi membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan sel kanker. Salah satu contoh obat yang dapat digunakan adalah rituximab, terutama pada jenis limfoma tertentu yang memiliki target sesuai.
Sementara itu, terapi target dirancang untuk menyerang karakteristik atau mekanisme tertentu pada sel kanker. Pendekatan ini memungkinkan pengobatan diarahkan secara lebih spesifik dibandingkan terapi yang bekerja secara luas terhadap sel yang membelah cepat.
4. Transplantasi Sel Induk
Transplantasi sel induk atau stem cell transplant dapat menjadi pilihan pada kondisi tertentu, terutama ketika limfoma membutuhkan terapi intensif atau telah melibatkan sumsum tulang.
Prosedurnya bertujuan menggantikan sel pembentuk darah yang rusak atau ditekan akibat terapi dosis tinggi dengan sel induk yang sehat. Tidak semua pasien membutuhkan prosedur ini sehingga keputusan penggunaannya harus berdasarkan evaluasi dokter.
5. Terapi CAR-T
Terapi CAR-T (Chimeric Antigen Receptor T-cell) merupakan salah satu pendekatan yang lebih maju dalam pengobatan kanker darah. Terapi ini menggunakan sel T milik pasien yang dimodifikasi agar mampu mengenali dan menyerang sel kanker secara lebih spesifik.
Teknologi CAR-T juga mulai tersedia di beberapa rumah sakit maju di Malaysia. Namun, penggunaannya bergantung pada jenis limfoma, kondisi pasien, riwayat terapi sebelumnya, serta ketersediaan terapi di fasilitas kesehatan yang dituju.
Menjalani pengobatan kanker limfoma di Malaysia butuh persiapan, mulai dari memilih rumah sakit dan dokter hingga menyiapkan dokumen medis serta jadwal konsultasi. Bagi pasien dari Indonesia, proses tersebut bisa terasa lebih rumit bila harus dilakukan semuanya sendiri.
Baca juga: 5 Alasan Memilih Medtrip sebagai Mitra Saat Berobat di Luar Negeri
Layanan medical concierge seperti Medtrip dapat memfasilitasi kebutuhan tersebut, hingga mendampingi berbagai kebutuhan Anda selama proses pengobatan di Malaysia.
Dengan dukungan yang tepat, pasien dan keluarga dapat lebih fokus pada proses perawatan tanpa harus direpotkan oleh urusan administratif dan perjalanan medis. Kontak Medtrip sekarang untuk konsultasi lebih lanjut.