Bahaya obesitas bukan sekadar soal penampilan atau angka di timbangan. Kondisi ini berkaitan erat dengan berbagai gangguan kesehatan serius yang bisa memengaruhi kualitas hidup dalam jangka panjang.
Sayangnya, masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa kebiasaan sehari-hari, mulai dari pola makan hingga gaya hidup, berperan besar meningkatkan risiko obesitas. Berikut bahaya obesitas, penyebabnya, dan solusi untuk mengatasi obesitas!
Penyebab Obesitas yang Perlu Anda Ketahui
Obesitas tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada berbagai faktor yang saling berkaitan dan berkontribusi terhadap peningkatan berat badan secara berlebihan. Berikut ini adalah beberapa penyebab utama obesitas yang perlu Anda pahami:
1. Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga
Faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan risiko seseorang mengalami obesitas. Jika dalam keluarga terdapat riwayat obesitas, kemungkinan besar anggota keluarga lainnya juga memiliki risiko yang sama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Gen tertentu dapat memengaruhi cara tubuh menyimpan lemak.
- Gen juga berperan dalam mengatur rasa lapar dan kenyang.
- Metabolisme tubuh bisa lebih lambat pada individu dengan faktor genetik tertentu.
Selain faktor biologis, kebiasaan keluarga juga turut berpengaruh. Misalnya:
- Pola makan tinggi kalori yang diwariskan.
- Kurangnya aktivitas fisik dalam lingkungan keluarga.
- Kebiasaan ngemil atau makan berlebihan.
Kombinasi antara genetik dan lingkungan keluarga inilah yang membuat risiko obesitas semakin tinggi.
2. Pola Makan Tidak Sehat
Salah satu penyebab utama obesitas adalah konsumsi makanan dan minuman yang tinggi kalori, lemak, dan gula, tetapi rendah nutrisi.
Contoh kebiasaan makan yang berisiko:
- Terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji.
- Mengonsumsi minuman manis atau bersoda secara rutin.
- Asupan gula tambahan yang melebihi 10% dari total kalori harian.
- Konsumsi lemak jenuh berlebihan.
Selain itu, kebiasaan makan berikut juga bisa memperparah kondisi:
- Makan dalam porsi besar tanpa kontrol.
- Sering makan larut malam.
- Kurang konsumsi serat seperti sayur dan buah.
Jika kebiasaan ini berlangsung dalam jangka panjang, kelebihan kalori akan disimpan sebagai lemak dan memicu obesitas.
Baca juga: 8 Ide Menu Diet Sehat yang Simpel dan Tetap Mengenyangkan
3. Kurangnya Aktivitas Fisik
Gaya hidup sedentari atau kurang bergerak jadi salah satu faktor terbesar penyebab obesitas di era modern.
Penjelasannya cukup sederhana:
- Kalori yang masuk tidak seimbang dengan kalori yang dibakar.
- Tubuh cenderung menyimpan kelebihan energi sebagai lemak.
Beberapa kebiasaan yang memicu kurangnya aktivitas fisik:
- Terlalu lama duduk di depan komputer atau TV.
- Jarang berolahraga.
- Minim aktivitas harian seperti berjalan kaki.
Padahal, kebutuhan aktivitas fisik ideal adalah:
- Minimal 150 menit aktivitas aerobik per minggu untuk orang dewasa.
- Anak-anak membutuhkan sekitar 60 menit aktivitas setiap hari.
Tanpa aktivitas yang cukup, metabolisme tubuh juga menjadi lebih lambat.
4. Pengaruh Penyakit dan Obat-obatan
Beberapa kondisi medis tertentu dapat menyebabkan peningkatan berat badan secara signifikan.
Contoh penyakit yang berkaitan dengan obesitas:
- Hipotiroidisme (gangguan hormon tiroid)
- Sindrom Cushing
- PCOS (polycystic ovary syndrome)
- Sindrom Prader-Willi
Baca juga: 6 Tanda PCOS pada Wanita, Penyebab, dan Pengobatannya
Kondisi tersebut dapat memengaruhi nafsu makan meningkat, metabolisme melambat, penumpukan lemak lebih mudah terjadi.
Selain itu, penggunaan obat-obatan tertentu juga bisa memicu kenaikan berat badan, seperti: antidepresan, kortikosteroid, obat diabetes (insulin), antipsikotik, dan beta-blocker.
Jika tidak diimbangi dengan pola hidup sehat, efek samping ini bisa berkembang menjadi obesitas.
5. Pertambahan Usia
Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan yang memengaruhi berat badan.
Beberapa perubahan tersebut meliputi:
- Penurunan massa otot.
- Metabolisme tubuh yang melambat.
- Aktivitas fisik yang cenderung berkurang.
Akibatnya:
- Kalori lebih mudah disimpan sebagai lemak.
- Berat badan lebih sulit dikontrol dibandingkan saat usia muda.
Oleh karena itu, penting untuk menyesuaikan pola makan dan aktivitas fisik seiring bertambahnya usia.
6. Faktor Psikologis dan Stres
Kondisi emosional juga berperan besar dalam memicu obesitas. Banyak orang yang menjadikan makanan sebagai pelarian saat mengalami stres atau tekanan emosional.
Kondisi yang sering memicu makan berlebihan stres berkepanjangan, rasa bosan, sedih atau depresi, marah atau cemas.
Saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol yang dapat:
- Meningkatkan nafsu makan.
- Mendorong keinginan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak.
- Memicu penumpukan lemak, terutama di area perut.
Jika tidak dikelola dengan baik, kebiasaan ini bisa menjadi pola yang berulang dan berujung pada obesitas.
7. Gangguan Tidur dan Lingkungan
Kurang tidur sering dianggap sepele, padahal memiliki dampak besar terhadap berat badan.
Orang yang tidur kurang dari 7 jam per malam cenderung:
- Lebih sering merasa lapar
- Sulit mengontrol porsi makan
- Memiliki risiko BMI lebih tinggi
Selain itu, faktor lingkungan juga turut memengaruhi, seperti:
- Akses mudah ke makanan cepat saji.
- Kurangnya fasilitas untuk aktivitas fisik.
- Lingkungan kerja yang menuntut duduk terlalu lama.
Lingkungan yang tidak mendukung gaya hidup sehat dapat memperbesar risiko obesitas tanpa disadari.
Apakah Anda Penderita Obesitas? Begini Cara Mengetahuinya!
Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengetahui apakah Anda termasuk penderita obesitas, yaitu:
1. Menghitung Indeks Massa Tubuh (BMI)
Cara paling umum untuk mengetahui apakah seseorang mengalami obesitas adalah dengan menghitung indeks massa tubuh atau Body Mass Index (BMI).
Rumus BMI adalah:
- BMI = berat badan (kg) ÷ (tinggi badan (m) × tinggi badan (m))
Sebagai contoh:
- Berat badan: 80 kg
- Tinggi badan: 160 cm (1,6 m)
Maka:
- BMI = 80 ÷ (1,6 × 1,6) = 31,25 kg/m²
Interpretasi hasil BMI:
- < 18,5 → berat badan kurang
- 18,5 – 24,9 → normal
- 25 – 29,9 → kelebihan berat badan
- ≥ 30 → obesitas
Jika hasil BMI Anda berada di atas 25, maka sudah termasuk kelebihan berat badan, dan jika mencapai 30 atau lebih, maka masuk kategori obesitas.
Namun, BMI bukan satu-satunya acuan karena tidak memperhitungkan massa otot, sehingga tetap perlu dikombinasikan dengan pemeriksaan lain.
2. Mengenali Ciri-Ciri Fisik Obesitas
Selain melalui angka BMI, tubuh biasanya juga memberikan tanda-tanda tertentu saat mengalami obesitas.
Beberapa ciri yang sering muncul antara lain:
- Berat badan jauh di atas angka ideal.
- Lingkar perut yang membesar.
- Sulit bergerak atau beraktivitas ringan.
- Mudah merasa lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat.
- Sering mengalami nyeri pada punggung dan sendi.
- Mengalami kebiasaan makan berlebihan tanpa kontrol.
- Tidur mengorok (sleep apnea ringan hingga sedang).
Ciri-ciri ini sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi sinyal awal dari kondisi obesitas yang perlu segera ditangani.
3. Evaluasi Pola Hidup Sehari-hari
Cara lain untuk mengetahui risiko obesitas adalah dengan mengevaluasi kebiasaan harian Anda.
Coba perhatikan beberapa hal berikut:
- Apakah Anda sering mengonsumsi makanan tinggi kalori, gula, atau lemak?
- Seberapa sering Anda berolahraga dalam seminggu?
- Berapa lama waktu yang dihabiskan untuk duduk atau screen time?
- Apakah Anda memiliki pola tidur yang cukup (minimal 7 jam)?
Jika sebagian besar jawabannya menunjukkan kebiasaan tidak sehat, maka risiko obesitas Anda juga semakin tinggi, bahkan meskipun belum terlihat secara signifikan.
4. Pemeriksaan Medis oleh Dokter
Diagnosis obesitas yang lebih akurat biasanya dilakukan oleh dokter melalui serangkaian pemeriksaan, seperti check up kesehatan. Lebih lanjut, dokter juga akan melakukan wawancara medis. Dalam wawancara medis, dokter biasanya akan menanyakan:
- Pola makan dan aktivitas fisik.
- Riwayat penyakit.
- Obat-obatan yang dikonsumsi.
- Kondisi psikologis.
- Upaya yang sudah dilakukan untuk menurunkan berat badan.
5. Pemeriksaan Penunjang untuk Risiko Penyakit
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya obesitas, dokter biasanya akan menyarankan tes tambahan untuk mengetahui dampaknya terhadap kesehatan.
Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan:
- Tes kolesterol (HDL dan LDL)
- Tes gula darah (HbA1c) untuk mendeteksi diabetes atau prediabetes
- Tes fungsi hati untuk mendeteksi fatty liver
- Pemeriksaan hormon tiroid
- Elektrokardiografi (EKG) untuk melihat kondisi jantung
Pemeriksaan ini penting karena obesitas sering kali berkaitan dengan berbagai penyakit kronis yang tidak langsung menunjukkan gejala di awal.
Bahaya Obesitas yang Perlu Diwaspadai
Ketika tubuh menyimpan lemak berlebih, terutama dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu peradangan kronis, gangguan hormonal, dan penurunan fungsi organ. Akibatnya, berbagai penyakit kronis pun lebih mudah berkembang.
Berikut ini adalah beberapa bahaya obesitas yang paling umum terjadi:
1. Penyakit Jantung dan Stroke
Salah satu bahaya obesitas yang paling serius adalah meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke. Bahkan, risiko penyakit jantung koroner pada penderita obesitas bisa meningkat hingga beberapa kali lipat dibandingkan orang dengan berat badan normal.
Hal ini terjadi karena:
- Kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida meningkat.
- Kadar kolesterol baik (HDL) menurun.
- Terjadi penumpukan plak di pembuluh darah.
- Peradangan dalam tubuh meningkat.
Akibatnya, aliran darah menjadi tidak lancar dan berisiko menyebabkan:
- Penyumbatan pembuluh darah (aterosklerosis).
- Serangan jantung.
- Stroke akibat gangguan aliran darah ke otak.
Kondisi ini sering berkembang tanpa gejala awal, sehingga sangat berbahaya jika tidak disadari sejak dini.
2. Diabetes Tipe 2
Obesitas sangat erat kaitannya dengan diabetes tipe 2. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif, yang dikenal sebagai resistensi insulin.
Prosesnya terjadi secara bertahap:
- Lemak berlebih meningkatkan kadar asam lemak dalam darah.
- Terjadi peradangan kronis dalam tubuh.
- Sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin.
- Kadar gula darah meningkat.
Jika tidak dikontrol, diabetes dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kerusakan saraf, gangguan penglihatan, penyakit ginjal, dan luka sulit sembuh. Inilah sebabnya obesitas sering disebut sebagai salah satu faktor utama pemicu diabetes.
3. Gangguan Pernapasan (Obstructive Sleep Apnea)
Bahaya obesitas juga bisa memengaruhi sistem pernapasan, salah satunya adalah obstructive sleep apnea (OSA).
Kondisi ini terjadi ketika:
- Lemak menumpuk di sekitar leher dan saluran pernapasan.
- Jalan napas menyempit atau tersumbat saat tidur.
- Aliran udara ke paru-paru terganggu.
Akibatnya, penderita bisa mengalami:
- Tidur mendengkur keras.
- Terbangun tiba-tiba karena sesak napas.
- Rasa kantuk berlebihan di siang hari.
- Kualitas tidur yang buruk.
OSA juga dapat menurunkan kadar oksigen dalam darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung jika tidak ditangani.
4. Meningkatkan Risiko Berbagai Jenis Kanker
Obesitas juga dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai jenis kanker. Bahkan, kondisi ini berhubungan dengan lebih dari 10 jenis penyakit kanker berbeda (seperti kanker payudara, kanker usus besar, kanker rahim, kanker hati, kanker pankreas, kanker ginjal, dan kanker tiroid).
Penyebabnya antara lain:
- Peradangan kronis dalam tubuh.
- Gangguan hormon, termasuk estrogen dan insulin.
- Lemak berlebih yang mengganggu fungsi sistem imun.
Akibatnya, sel-sel abnormal lebih mudah berkembang menjadi kanker.
5. Osteoarthritis (Radang Sendi)
Osteoarthritis adalah kondisi peradangan pada sendi yang menyebabkan nyeri, kaku, dan keterbatasan gerak.
Pada penderita obesitas, risiko osteoarthritis meningkat karena:
- Beban berlebih pada sendi, terutama lutut, pinggul, dan punggung.
- Peradangan sistemik akibat lemak tubuh.
- Kerusakan tulang rawan yang lebih cepat.
Gejala yang sering dirasakan:
- Nyeri saat bergerak.
- Sendi terasa kaku, terutama di pagi hari.
- Sulit melakukan aktivitas fisik.
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
Solusi untuk Mengatasi Obesitas Secara Aman dan Efektif
Berikut ini adalah berbagai solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi obesitas:
1. Mengatur Pola Makan Sehat dan Seimbang
Perbaikan pola makan merupakan langkah utama dalam mengatasi obesitas. Tujuannya adalah mengontrol asupan kalori tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi tubuh.
Beberapa prinsip penting dalam mengatur pola makan:
- Mengurangi asupan kalori harian sesuai kebutuhan tubuh.
- Menghindari makanan tinggi gula, lemak jenuh, dan kalori tinggi.
- Memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan makanan tinggi serat.
- Memilih sumber protein sehat seperti ikan, ayam tanpa lemak, dan kacang-kacangan.
- Mengganti minuman manis dengan air putih.
Selain itu, penting juga untuk memastikan makanan yang dikonsumsi tetap bergizi lengkap dan seimbang agar tubuh tidak kekurangan nutrisi penting.
Perlu diingat, setiap orang memiliki kebutuhan kalori yang berbeda. Oleh karena itu, program diet sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.
Baca juga: 8 Cara Diet Sehat untuk Menurunkan Berat Badan Berlebih
2. Mengatur Jadwal Makan dengan Tepat
Tidak hanya jenis makanan, waktu makan juga berpengaruh besar terhadap berat badan.
Beberapa kebiasaan yang perlu diperhatikan:
- Hindari makan larut malam.
- Usahakan makan pada jam yang teratur setiap hari.
- Jangan melewatkan waktu makan utama (sarapan, makan siang, makan malam).
Makan di luar jam biologis tubuh dapat mengganggu metabolisme dan ritme sirkadian. Akibatnya:
- Tubuh lebih sulit membakar kalori.
- Lemak lebih mudah disimpan.
- Nafsu makan meningkat akibat perubahan hormon.
Dengan jadwal makan yang teratur, tubuh akan lebih optimal dalam mengelola energi dan menjaga berat badan.
3. Rutin Berolahraga
Olahraga adalah kunci penting dalam membakar kalori dan meningkatkan metabolisme tubuh.
Rekomendasi aktivitas fisik yang bisa dilakukan:
- Minimal 150 menit olahraga intensitas sedang per minggu.
- Atau sekitar 30 menit per hari, 5 kali dalam seminggu.
Jenis olahraga yang bisa dipilih antara lain jalan cepat, bersepeda, berenang, dan senam atau latihan aerobik.
Bagi pemula, tidak perlu langsung melakukan olahraga berat. Mulailah dari aktivitas ringan, kemudian tingkatkan intensitasnya secara bertahap.
Baca juga: 6 Olahraga Simpel Bareng Si Kecil untuk Cegah Penyakit Berat di Hari Tua
Selain untuk menurunkan berat badan, olahraga juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung, meningkatkan mood, dan mengurangi stres.
4. Konseling dan Dukungan Psikologis
Faktor psikologis sering kali menjadi penyebab tersembunyi dari obesitas, seperti kebiasaan makan berlebihan saat stres (emotional eating).
Melalui konseling, Anda bisa:
- Mengenali pemicu makan berlebihan.
- Belajar mengelola stres dengan cara yang lebih sehat.
- Membangun pola pikir yang positif terhadap proses penurunan berat badan.
Konseling bisa dilakukan secara individu dengan psikolog atau kelompok (support group).
Pendekatan ini terbukti efektif untuk membantu menjaga konsistensi dalam menjalani gaya hidup sehat.
5. Penggunaan Obat Penurun Berat Badan
Jika perubahan gaya hidup belum memberikan hasil yang signifikan, dokter mungkin akan meresepkan obat untuk membantu menurunkan berat badan.
Beberapa hal yang perlu diketahui:
- Obat biasanya diberikan sebagai terapi tambahan, bukan pengganti pola hidup sehat.
- Penggunaan harus berdasarkan resep dan pengawasan dokter.
- Tidak semua orang cocok menggunakan obat tertentu.
Contoh obat yang digunakan antara lain orlistat, semaglutide, dan setmelanotide.
Obat-obatan ini bekerja dengan cara:
- Mengurangi penyerapan lemak.
- Mengontrol nafsu makan.
- Mengatur metabolisme tubuh.
Namun, penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.
6. Tindakan Medis dan Operasi Bariatrik
Pada kasus obesitas yang cukup parah, terutama jika sudah disertai komplikasi, dokter dapat menyarankan tindakan medis seperti operasi bariatrik.
Beberapa jenis prosedur yang umum dilakukan:
- Endoskopi bariatrik: Mengurangi ukuran lambung tanpa sayatan besar, sehingga pemulihan lebih cepat.
- Balon intragastrik: Memasukkan balon ke dalam lambung untuk memberikan rasa kenyang lebih lama.
- Operasi bariatrik (bedah): Meliputi gastric band (pengikatan lambung), gastric bypass, dan sleeve gastrectomy (pemotongan sebagian lambung).
Tujuan dari prosedur ini adalah:
- Membatasi jumlah makanan yang bisa dikonsumsi.
- Mengurangi penyerapan kalori.
- Membantu pasien merasa kenyang lebih cepat.
7. Konsistensi dan Perubahan Gaya Hidup Jangka Panjang
Hal terpenting dalam mengatasi obesitas adalah konsistensi. Banyak orang gagal menurunkan berat badan karena tidak mampu mempertahankan perubahan gaya hidup dalam jangka panjang.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Menetapkan target yang realistis.
- Mencatat perkembangan berat badan secara berkala.
- Menghindari pola diet ekstrem.
- Fokus pada perubahan kecil namun konsisten.
Perlu dipahami bahwa:
- Penurunan berat badan yang sehat adalah sekitar 0,5–1 kg per minggu.
- Hasil yang bertahan lama lebih penting daripada penurunan cepat.
Dengan komitmen yang kuat dan pendekatan yang tepat, obesitas dapat dikendalikan bahkan dicegah sejak dini.
Kapan Anda Harus Periksa ke Dokter?
Tidak semua kasus obesitas bisa ditangani secara mandiri. Dalam beberapa situasi, diperlukan evaluasi medis menyeluruh untuk mengetahui penyebab, risiko, serta penanganan yang paling tepat.
Berikut ini adalah tanda-tanda yang perlu Anda waspadai:
1. Berat Badan Terus Naik Tanpa Sebab yang Jelas
Jika Anda merasa berat badan terus meningkat meskipun tidak ada perubahan signifikan pada pola makan atau aktivitas, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan medis.
Kemungkinan penyebabnya antara lain:
- Gangguan hormon seperti hipotiroidisme
- Efek samping obat-obatan tertentu
- Gangguan metabolisme
Kondisi ini tidak bisa diatasi hanya dengan diet biasa, sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut.
2. BMI Sudah Masuk Kategori Obesitas atau Lebih Tinggi
Jika hasil perhitungan BMI Anda sudah mencapai angka 30 atau lebih, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter, terutama jika:
- BMI terus meningkat dari waktu ke waktu
- Sudah mencoba diet dan olahraga tetapi tidak berhasil
- Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit kronis
Dokter dapat membantu menentukan langkah penanganan yang lebih tepat, termasuk apakah diperlukan terapi tambahan seperti obat atau tindakan medis.
3. Muncul Gejala Penyakit Terkait Obesitas
Bahaya obesitas sering kali ditandai dengan munculnya gejala tertentu pada tubuh. Jika Anda mengalami beberapa gejala berikut, sebaiknya segera periksa ke dokter:
- Sesak napas, terutama saat beraktivitas ringan
- Nyeri dada atau jantung berdebar
- Sering merasa haus dan buang air kecil (tanda diabetes)
- Nyeri sendi atau kesulitan bergerak
- Mudah lelah tanpa sebab jelas
Gejala-gejala ini bisa menjadi indikasi adanya komplikasi seperti penyakit jantung, diabetes, atau gangguan pernapasan.
4. Gangguan Tidur yang Semakin Parah
Jika Anda mengalami gangguan tidur seperti:
- Mendengkur keras setiap malam
- Terbangun karena sesak napas
- Rasa kantuk berlebihan di siang hari
Kondisi ini bisa mengarah pada obstructive sleep apnea, yang sering dialami oleh penderita obesitas. Gangguan ini tidak hanya mengganggu kualitas tidur, tetapi juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
5. Sulit Menurunkan Berat Badan Meski Sudah Berusaha
Jika Anda sudah mencoba berbagai cara seperti:
- Mengatur pola makan
- Rutin berolahraga
- Mengurangi asupan kalori
Namun berat badan tetap tidak turun, ini bisa menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan pendekatan medis yang lebih spesifik.
Dokter dapat membantu dengan:
- Evaluasi penyebab yang mendasari
- Menyusun program penurunan berat badan yang lebih terarah
- Memberikan terapi tambahan jika diperlukan
6. Memiliki Penyakit Penyerta yang Memburuk
Jika Anda sudah memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung, lalu kondisinya semakin memburuk seiring kenaikan berat badan, maka penanganan obesitas harus dilakukan secara medis dan terkontrol.
Mengetahui kapan harus ke dokter adalah langkah penting untuk mencegah bahaya obesitas berkembang lebih jauh. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk mengembalikan kondisi tubuh ke arah yang lebih sehat.
Jika Anda ingin berobat ke Malaysia, Anda bisa bekerja sama dengan medical concierge seperti Medtrip. Kenapa? Alasannya bisa Anda simak pada artikel: 5 Alasan Memilih Medtrip sebagai Mitra Saat Berobat di Luar Negeri. Jadi, kenapa tidak?