Penyebab kanker serviks sering kali tidak disadari karena penyakit ini berkembang secara perlahan dan pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan keluhan yang khas. Banyak wanita baru mengetahui dirinya mengalami kanker serviks ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut.
Oleh karena itu, memahami penyebab, faktor risiko, dan gejalanya sejak dini dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan sekaligus mencegah komplikasi yang lebih serius. Berikut ulasannya, yuk simak!
Apa Itu Kanker Serviks?
Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada leher rahim (serviks), yaitu bagian paling bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. Penyakit ini terjadi ketika sel-sel normal di serviks mengalami perubahan menjadi sel abnormal, kemudian tumbuh secara tidak terkendali hingga membentuk jaringan ganas.
Perubahan sel tersebut umumnya berlangsung secara perlahan selama bertahun-tahun. Pada tahap awal, sel abnormal biasanya masih berada pada kondisi prakanker sehingga belum menimbulkan gejala.
Jika tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat, perubahan sel tersebut dapat berkembang menjadi kanker serviks invasif yang menyebar ke jaringan di sekitarnya bahkan ke organ lain.
Jenis-Jenis Kanker Serviks
Berdasarkan asal selnya, kanker serviks dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu:
1. Karsinoma Sel Skuamosa (KSS)
Karsinoma sel skuamosa merupakan jenis kanker serviks yang paling banyak ditemukan. Kanker ini berasal dari sel skuamosa, yaitu sel tipis yang melapisi bagian luar leher rahim. Sebagian besar kasus kanker serviks termasuk dalam kelompok ini sehingga sering menjadi fokus utama dalam program skrining.
2. Adenokarsinoma
Adenokarsinoma berkembang dari sel-sel kelenjar yang berada di saluran leher rahim. Jenis ini lebih jarang ditemukan dibandingkan karsinoma sel skuamosa, tetapi jumlah kasusnya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Pada beberapa kondisi, seseorang dapat mengalami kombinasi kedua jenis kanker tersebut. Selain itu, terdapat pula jenis kanker serviks lain yang berasal dari tipe sel berbeda, meskipun kasusnya sangat jarang.
Mengapa Deteksi Dini Sangat Penting?
Kanker serviks memiliki peluang kesembuhan yang jauh lebih tinggi apabila ditemukan pada stadium awal. Hal ini terlihat dari angka harapan hidup lima tahun setelah diagnosis yang sangat dipengaruhi oleh stadium penyakit.
Berikut gambaran angka harapan hidup penderita kanker serviks berdasarkan stadium:
- Stadium 1: sekitar 95%
- Stadium 2: sekitar 70%
- Stadium 3: sekitar 40%
- Stadium 4: sekitar 15%
Data tersebut menunjukkan bahwa diagnosis pada stadium awal memberikan peluang hidup yang jauh lebih baik dibandingkan ketika kanker telah menyebar.
Selain itu, secara global kanker serviks masih menjadi kanker keempat yang paling sering dialami wanita. Pada tahun 2022 tercatat sekitar 660.000 kasus baru dengan sekitar 350.000 kematian.
Sebagian besar kematian tersebut terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah akibat keterlambatan diagnosis serta keterbatasan akses terhadap skrining dan pengobatan.
Di Indonesia sendiri, kanker serviks telah menyerang sekitar 36.633 wanita sehingga meningkatkan kesadaran mengenai penyakit ini jadi langkah yang sangat penting.
Penyebab Kanker Serviks
Meskipun penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV), tidak semua wanita yang terinfeksi virus ini akan mengalami kanker.
Selain karena infeksi HPV, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan peluang seseorang mengalami kanker serviks, yaitu:
1. Infeksi Human Papillomavirus (HPV) Berisiko Tinggi
Infeksi Human papillomavirus (HPV) merupakan penyebab utama kanker serviks. Berdasarkan National Cancer Institute, sekitar 99,7% kasus kanker serviks berhubungan dengan infeksi HPV genital berisiko tinggi yang berlangsung dalam waktu lama.
HPV ditularkan melalui kontak seksual dan menginfeksi lapisan sel pada serviks. Sebagian besar infeksi memang dapat sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi, apabila virus bertahan selama bertahun-tahun, HPV dapat mengganggu mekanisme normal pembelahan sel sehingga terjadi perubahan genetik yang memicu terbentuknya lesi prakanker.
Jika lesi tersebut tidak terdeteksi melalui pemeriksaan rutin, sel abnormal akan terus berkembang hingga menjadi kanker serviks invasif. Ini alasan mengapa infeksi HPV yang persisten jadi faktor utama sebagai penyebab kanker serviks.
2. Sistem Kekebalan Tubuh yang Lemah
Daya tahan tubuh memiliki peran besar dalam membersihkan infeksi HPV. Ketika sistem imun melemah, tubuh menjadi lebih sulit mengendalikan virus sehingga infeksi dapat bertahan lebih lama.
Risiko ini lebih tinggi pada wanita yang:
- Mengidap HIV/AIDS.
- Menjalani transplantasi organ dan mengonsumsi obat imunosupresan.
- Menggunakan obat penekan sistem kekebalan tubuh untuk penyakit autoimun dalam jangka panjang.
Semakin lama HPV bertahan di dalam tubuh, semakin besar pula peluang terjadinya perubahan sel yang dapat berkembang menjadi kanker serviks.
3. Kebiasaan Merokok
Merokok menjadi salah satu faktor risiko yang telah banyak dibuktikan melalui berbagai penelitian. Zat kimia dalam rokok tidak hanya merusak jaringan tubuh, tetapi juga menurunkan kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam melawan infeksi HPV.
Selain itu, senyawa beracun dari rokok dapat memicu kerusakan DNA pada sel serviks sehingga mempercepat terbentuknya sel kanker. Risiko ini juga dapat meningkat pada wanita yang sering terpapar asap rokok meskipun tidak merokok secara aktif.
4. Aktivitas Seksual yang Meningkatkan Paparan HPV
Semakin tinggi peluang seseorang terpapar HPV, semakin besar pula risiko mengalami kanker serviks. Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan paparan virus antara lain:
- Memiliki lebih dari satu pasangan seksual.
- Memiliki pasangan yang juga berganti-ganti pasangan seksual.
- Memulai aktivitas seksual pada usia yang relatif muda sehingga paparan terhadap HPV terjadi lebih awal.
Perlu dipahami bahwa faktor-faktor tersebut tidak secara langsung menyebabkan kanker, tetapi meningkatkan kemungkinan seseorang terinfeksi HPV yang menjadi penyebab utama kanker serviks.
5. Faktor Reproduksi dan Kondisi Medis Tertentu
Selain HPV, terdapat beberapa kondisi yang diketahui dapat meningkatkan risiko berkembangnya kanker serviks.
Faktor-faktor tersebut meliputi:
- Penggunaan kontrasepsi oral (pil KB) dalam jangka panjang.
- Memiliki banyak riwayat persalinan.
- Mengalami obesitas yang dapat menyulitkan proses skrining kanker serviks.
- Mengalami infeksi menular seksual lain seperti herpes, klamidia, gonore, sifilis, maupun HIV/AIDS.
- Riwayat paparan obat dietilstilbestrol (DES) ketika masih berada di dalam kandungan, meskipun kasus ini tergolong sangat jarang.
Faktor-faktor tersebut umumnya meningkatkan risiko dengan cara mempermudah infeksi HPV bertahan lebih lama atau menghambat proses deteksi dini terhadap perubahan sel pada serviks.
Baca juga: 6 Tanda PCOS pada Wanita, Penyebab, dan Pengobatannya
Gejala Kanker Serviks
Gejala kanker serviks sering kali tidak muncul pada stadium awal. Hal ini membuat banyak wanita baru mengetahui penyakitnya setelah kanker berkembang ke stadium yang lebih lanjut. Seiring pertumbuhan sel kanker, keluhan akan menjadi semakin jelas dan cenderung lebih berat.
Berikut perkembangan gejala kanker serviks berdasarkan stadium penyakit:
1. Gejala Kanker Serviks Stadium 1
Pada stadium 1, sel kanker masih terbatas pada jaringan serviks dan belum menyebar ke organ lain. Oleh sebab itu, gejala yang muncul biasanya masih ringan bahkan sering tidak disadari. Meski demikian, mengenali tanda-tanda awal tetap penting agar pengobatan dapat dilakukan sedini mungkin.
Beberapa gejala yang dapat muncul meliputi:
- Perdarahan vagina setelah berhubungan seksual, di luar siklus menstruasi, setelah menopause, atau menstruasi yang lebih banyak dari biasanya.
- Keputihan dalam jumlah lebih banyak dengan warna kecokelatan, bercampur darah, atau berbau tidak sedap akibat perubahan sel pada leher rahim.
- Nyeri panggul ringan yang datang dan pergi, terutama setelah berhubungan seksual atau setelah pemeriksaan panggul. Keluhan ini muncul akibat adanya peradangan pada jaringan di sekitar serviks.
2. Gejala Kanker Serviks Stadium 2
Pada stadium 2, kanker mulai menyebar ke jaringan di sekitar serviks, tetapi belum mencapai dinding panggul maupun bagian bawah vagina. Gejala biasanya menjadi lebih jelas dibandingkan stadium sebelumnya.
Beberapa keluhan yang sering dialami antara lain:
- Perdarahan vagina yang terjadi lebih sering dan volumenya lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
- Nyeri panggul yang semakin sering muncul dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari akibat penyebaran kanker ke jaringan sekitar serviks.
- Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia) akibat adanya tekanan atau peradangan pada jaringan yang terkena tumor.
- Keputihan yang semakin banyak, lebih kental, berbau tidak sedap, dan terkadang disertai bercak darah.
3. Gejala Kanker Serviks Stadium 3
Pada stadium 3, kanker telah menyebar hingga dinding panggul atau bagian bawah vagina, bahkan mulai memengaruhi fungsi organ di sekitarnya. Gejala yang muncul umumnya lebih berat dan dapat menurunkan kualitas hidup penderita.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai meliputi:
- Nyeri panggul yang terus-menerus. Rasa nyeri biasanya semakin intens, menjalar ke punggung bawah atau tungkai, serta tidak lagi hilang dengan istirahat biasa.
- Gangguan buang air kecil atau buang air besar. Pertumbuhan tumor dapat menekan kandung kemih maupun usus sehingga penderita mengalami nyeri saat berkemih, sulit buang air kecil, sering ingin buang air kecil, sembelit, atau kesulitan buang air besar.
- Pembengkakan pada kaki. Penyebaran kanker ke kelenjar getah bening dapat menghambat aliran cairan tubuh sehingga menyebabkan kaki membengkak, terasa berat, dan tidak nyaman.
- Perdarahan vagina yang berat dan sulit dikendalikan. Perdarahan dapat berlangsung lebih lama, lebih banyak, dan muncul tanpa pola yang jelas sehingga berisiko menyebabkan anemia.
- Kelelahan ekstrem dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Kondisi ini terjadi ketika tubuh mengalokasikan energi untuk melawan pertumbuhan kanker. Pada stadium lanjut, penderita juga dapat mengalami cachexia, yaitu penurunan berat badan yang disertai berkurangnya massa otot secara signifikan.
Baca juga: Didiagnosis Penyakit Kanker, Coba Cari Second Opinion di Malaysia
Pencegahan Kanker Serviks
Semakin dini upaya pencegahan dilakukan, semakin besar pula peluang untuk mencegah perkembangan penyakit hingga stadium lanjut. Berikut beberapa langkah yang dapat kamu lakukan:
1. Vaksinasi HPV sebagai Perlindungan Utama
Vaksin Human papillomavirus (HPV) merupakan langkah pencegahan paling efektif untuk mengurangi risiko infeksi HPV berisiko tinggi yang menjadi penyebab utama kanker serviks. Vaksin bekerja dengan membantu tubuh membentuk antibodi sehingga mampu melawan virus sebelum terjadi infeksi.
Vaksin HPV direkomendasikan untuk:
- Anak perempuan dan laki-laki mulai usia 9 tahun.
- Remaja hingga usia 26 tahun yang belum pernah mendapatkan vaksin secara lengkap.
- Orang dewasa dengan usia lebih dari 26 tahun yang masih berisiko terpapar HPV, sesuai rekomendasi dokter.
Meskipun vaksin memberikan perlindungan yang sangat baik, vaksinasi tidak menggantikan pentingnya skrining kanker serviks. Hal ini disebabkan vaksin tidak melindungi terhadap seluruh tipe HPV yang dapat menyebabkan kanker.
2. Rutin Melakukan Medical Check Up untuk Deteksi Dini
Medical check up menjadi salah satu cara terbaik untuk menemukan perubahan sel serviks sebelum berkembang menjadi kanker. Pada tahap prakanker, sebagian besar kelainan masih dapat ditangani sehingga risiko berkembang menjadi kanker serviks dapat ditekan secara signifikan.
Pemeriksaan ini sangat disarankan bagi wanita yang sudah aktif secara seksual atau berusia 25 tahun ke atas.
Beberapa pemeriksaan yang umumnya dilakukan saat medical check up untuk mendeteksi kanker serviks meliputi:
Pap Smear
Pap smear dilakukan dengan mengambil sampel sel dari leher rahim untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi adanya sel abnormal atau perubahan prakanker sebelum berkembang menjadi kanker serviks.
Pap smear menjadi salah satu metode skrining yang telah digunakan selama puluhan tahun dan terbukti mampu menurunkan angka kematian akibat kanker serviks melalui deteksi dini.
Tes HPV DNA
Tes HPV DNA bertujuan mendeteksi keberadaan virus HPV tipe risiko tinggi yang berpotensi menyebabkan kanker serviks.
Keunggulan pemeriksaan ini adalah mampu menemukan infeksi HPV bahkan sebelum muncul perubahan sel pada serviks. Oleh karena itu, tes HPV DNA kini menjadi salah satu metode skrining yang banyak direkomendasikan.
Tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)
Tes IVA dilakukan dengan mengoleskan larutan asam asetat encer pada leher rahim. Jika terdapat sel abnormal, area tersebut akan berubah menjadi putih sehingga dapat terlihat secara langsung oleh dokter.
Pemeriksaan ini relatif sederhana, cepat, serta banyak digunakan sebagai metode skrining di berbagai fasilitas kesehatan.
Baca juga: Sekalian Liburan Akhir Tahun, Ini Dia Biaya Medical Check Up di Malaysia
Jadwal Skrining yang Disarankan
Frekuensi pemeriksaan dapat disesuaikan dengan usia, hasil pemeriksaan sebelumnya, dan kondisi kesehatan masing-masing wanita. Secara umum, rekomendasinya meliputi:
- Usia 25 – 65 tahun disarankan menjalani tes HPV setiap 5 tahun.
- Alternatif lainnya adalah Pap smear setiap 3 tahun apabila tes HPV belum tersedia.
- Wanita dengan faktor risiko tertentu mungkin memerlukan pemeriksaan lebih sering sesuai anjuran dokter.
Apabila hasil skrining menunjukkan adanya kelainan, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis sekaligus menentukan stadium penyakit.
Pemeriksaan lanjutan tersebut dapat meliputi:
- MRI, CT scan, PET scan, atau rontgen, untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar ke jaringan atau organ lain.
- Tes darah, guna menilai fungsi hati dan ginjal sebelum menentukan terapi.
- Sistoskopi, untuk memeriksa kemungkinan penyebaran kanker ke kandung kemih dan saluran kemih.
- Proktoskopi, untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar ke rektum.
Baca juga: Apa Itu Pet Scan? Berikut 5 Hal yang Perlu Anda Ketahui!
Informasi dari seluruh pemeriksaan tersebut akan membantu dokter menentukan stadium kanker serviks sehingga pengobatan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi setiap pasien.
Jika kamu berencana menjalani medical check up di Malaysia, prosesnya kini juga semakin mudah dengan bantuan layanan medical concierge seperti Medtrip.
Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan atau memerlukan evaluasi lebih lanjut, Medtrip juga dapat membantu mengatur konsultasi dengan dokter spesialis yang tepat sehingga kamu bisa memperoleh penanganan secara lebih cepat dan terarah. Kontak Medtrip untuk jadwalkan keberangkatanmu sekarang!
3. Menghindari Faktor Risiko yang Dapat Dikendalikan
Tidak semua faktor risiko kanker serviks dapat dicegah. Namun, beberapa di antaranya dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup dan perilaku sehari-hari.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Menggunakan kondom saat berhubungan seksual untuk membantu mengurangi risiko penularan HPV dan infeksi menular seksual lainnya.
- Menghindari kebiasaan merokok maupun paparan asap rokok.
- Membatasi jumlah pasangan seksual sehingga risiko terpapar HPV menjadi lebih rendah.
- Segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala infeksi menular seksual agar mendapatkan penanganan sedini mungkin.
Langkah-langkah tersebut tidak memberikan perlindungan secara mutlak, tetapi dapat membantu menurunkan risiko infeksi HPV yang menetap dalam jangka panjang.
4. Menjaga Sistem Kekebalan Tubuh dengan Pola Hidup Sehat
Sebagian besar infeksi HPV sebenarnya dapat dibersihkan secara alami oleh sistem kekebalan tubuh. Oleh sebab itu, menjaga daya tahan tubuh menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan kanker serviks.
Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan meliputi:
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya buah, sayur, protein, dan serat.
- Berolahraga secara rutin setidaknya 150 menit setiap minggu.
- Menjaga berat badan tetap ideal.
- Tidur yang cukup setiap malam.
- Mengelola stres dengan baik melalui aktivitas relaksasi atau hobi yang disukai.
Pola hidup sehat memang tidak dapat mencegah infeksi HPV secara langsung, tetapi dapat membantu tubuh bekerja lebih optimal dalam melawan infeksi sehingga risiko infeksi menetap menjadi lebih kecil.
5. Mengenali Gejala dan Tidak Menunda Pemeriksaan
Salah satu penyebab keterlambatan diagnosis kanker serviks adalah menganggap gejala awal sebagai keluhan biasa. Padahal, perdarahan di luar siklus menstruasi, keputihan yang tidak normal, maupun nyeri panggul sebaiknya tidak diabaikan.
Segera konsultasikan ke dokter apabila mengalami:
- Perdarahan setelah berhubungan seksual.
- Perdarahan setelah menopause.
- Keputihan berbau menyengat atau bercampur darah.
- Nyeri panggul yang berlangsung terus-menerus.
- Nyeri saat berhubungan seksual.
Pemeriksaan sejak awal memungkinkan dokter menemukan penyebab keluhan lebih cepat sehingga penanganan dapat segera dilakukan apabila ditemukan perubahan pada serviks.
Baca juga: 5 Rekomendasi Dokter Spesialis Ginekologi Terdekat dari Bandara Penang
6. Segera Menjalani Pengobatan Bila Terdiagnosis Kanker Serviks
Pencegahan komplikasi kanker serviks tidak berhenti pada tahap skrining. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kanker serviks, pasien sebaiknya segera menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter.
Pengobatan kanker serviks akan disesuaikan dengan stadium penyakit, ukuran tumor, kondisi kesehatan pasien, serta penyebaran kanker ke organ lain. Semakin dini terapi dimulai, semakin besar peluang keberhasilan pengobatan dan semakin tinggi pula angka harapan hidup pasien.
Dengan kombinasi vaksinasi HPV, medical check up berkala, pola hidup sehat, serta penanganan yang cepat ketika ditemukan kelainan, risiko kanker serviks dapat ditekan secara signifikan.