Penyakit tiroid merupakan salah satu gangguan kesehatan yang cukup sering terjadi, tapi gejalanya kerap dianggap sebagai masalah kesehatan biasa. Padahal, kelenjar tiroid memiliki peran penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh.
Apabila fungsi kelenjar tiroid terganggu atau terjadi perubahan bentuk pada kelenjar tersebut, hampir seluruh sistem tubuh dapat ikut terdampak. Oleh sebab itu, mengenali penyebab, jenis-jenis gangguan tiroid, dan metode pengobatannya jadi langkah awal yang penting agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Berikut ulasan yang perlu Anda simak!
Apa Itu Penyakit Tiroid?
Penyakit tiroid adalah sekumpulan kondisi yang terjadi ketika kelenjar tiroid mengalami gangguan, baik dari segi fungsi maupun bentuknya. Gangguan tersebut dapat membuat kelenjar menghasilkan hormon tiroid terlalu banyak, terlalu sedikit, atau mengalami perubahan struktur seperti pembengkakan maupun munculnya benjolan.
Kelenjar tiroid sendiri merupakan organ kecil berbentuk kupu-kupu yang berada di bagian depan leher, tepat di bawah jakun. Meski ukurannya relatif kecil, organ ini memiliki tugas yang sangat besar dalam menjaga keseimbangan berbagai fungsi tubuh.
Hormon yang diproduksi oleh kelenjar tiroid berperan dalam mengatur:
- Kecepatan metabolisme tubuh.
- Suhu tubuh.
- Detak dan irama jantung.
- Produksi energi.
- Fungsi saluran pencernaan.
- Pertumbuhan dan perkembangan tubuh.
- Kinerja otot dan sistem saraf.
Ketika produksi hormon tiroid terganggu atau bentuk kelenjar berubah, berbagai organ dalam tubuh ikut mengalami perubahan fungsi. Itulah sebabnya gejala penyakit tiroid bisa sangat beragam dan sering menyerupai penyakit lain.
Secara umum, gangguan pada kelenjar tiroid dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:
- Gangguan fungsi tiroid, yaitu kondisi ketika produksi hormon menjadi terlalu banyak atau terlalu sedikit.
- Gangguan bentuk tiroid, yaitu kondisi ketika muncul pembengkakan atau benjolan pada kelenjar tiroid.
Pembagian ini penting dipahami karena setiap kelompok memiliki penyebab, gejala, serta penanganan yang berbeda.
Penyebab Penyakit Tiroid
Penyebab penyakit tiroid tidak selalu sama pada setiap orang. Beberapa penyebab yang paling sering ditemukan antara lain sebagai berikut:
1. Kekurangan yodium
Yodium merupakan mineral penting yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi hormon tiroid. Apabila asupan yodium tidak mencukupi dalam jangka waktu lama, produksi hormon dapat menurun sehingga kelenjar tiroid bekerja lebih keras. Kondisi tersebut dapat memicu pembesaran kelenjar atau gondok.
Meski penggunaan garam beryodium telah membantu menurunkan kasus kekurangan yodium, kondisi ini masih dapat ditemukan pada sebagian orang yang memiliki pola makan kurang seimbang.
2. Penyakit autoimun
Gangguan autoimun menjadi penyebab utama berbagai penyakit tiroid yang berkaitan dengan fungsi hormon.
Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh keliru mengenali jaringan tiroid sebagai benda asing sehingga menyerangnya.
Contoh penyakit autoimun yang sering menyebabkan gangguan tiroid meliputi:
- Graves’ disease, yang menyebabkan produksi hormon tiroid berlebihan sehingga memicu hipertiroidisme.
- Hashimoto’s disease, yang merusak jaringan tiroid secara perlahan sehingga produksi hormon menurun dan menyebabkan hipotiroidisme.
3. Peradangan pada kelenjar tiroid (tiroiditis)
Tiroiditis merupakan kondisi ketika kelenjar tiroid mengalami peradangan. Peradangan dapat menyebabkan hormon tiroid dilepaskan secara tidak normal sehingga kadar hormon dalam tubuh menjadi tidak stabil.
Pada sebagian pasien, kondisi ini hanya berlangsung sementara. Namun, pada kasus tertentu, tiroiditis dapat berkembang menjadi hipotiroid jangka panjang.
4. Faktor genetik
Riwayat keluarga memiliki pengaruh terhadap risiko seseorang mengalami gangguan tiroid. Individu yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit autoimun, gondok, atau gangguan hormon tiroid umumnya mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami kondisi serupa.
Faktor genetik bukan berarti penyakit pasti muncul, tetapi dapat meningkatkan kerentanan apabila dipadukan dengan faktor risiko lainnya.
Baca juga: Contoh Penyakit Genetik: Miliki Gaya Hidup Sehat untuk Meminimalisirnya
5. Perubahan hormon setelah melahirkan
Sebagian wanita dapat mengalami gangguan fungsi tiroid setelah proses persalinan. Kondisi ini dikenal sebagai postpartum thyroiditis.
Gangguan dapat dimulai dengan fase hipertiroid sementara, kemudian berlanjut menjadi hipotiroid sebelum akhirnya membaik. Meski demikian, pada sebagian wanita gangguan dapat menetap sehingga membutuhkan pemantauan jangka panjang.
6. Gangguan pada kelenjar pituitari (hipofisis)
Produksi hormon tiroid dikendalikan oleh hormon TSH (Thyroid Stimulating Hormone) yang diproduksi oleh kelenjar pituitari di otak.
Apabila kelenjar pituitari mengalami gangguan, produksi TSH juga ikut terganggu sehingga kelenjar tiroid tidak dapat bekerja secara optimal.
Jenis-Jenis Penyakit Tiroid
Gangguan pada kelenjar tiroid tidak hanya terdiri dari satu jenis. Masing-masing memiliki penyebab, mekanisme terjadinya penyakit, gejala, serta penanganan yang berbeda. Berikut jenis-jenis penyakit tiroid:
1. Hipotiroidisme
Hipotiroidisme merupakan kondisi ketika kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan kebutuhan tubuh.
Akibatnya, proses metabolisme melambat sehingga berbagai organ bekerja lebih lambat dari biasanya.
Penyebab yang paling sering ditemukan meliputi:
- Penyakit Hashimoto (autoimun).
- Kekurangan yodium.
- Tiroiditis.
- Gangguan pada kelenjar pituitari.
Gejala yang paling khas meliputi:
- Mudah lelah.
- Berat badan naik tanpa sebab yang jelas.
- Sulit buang air besar.
- Kulit menjadi kering.
- Sensitif terhadap udara dingin.
- Sulit berkonsentrasi.
Apabila tidak ditangani, hipotiroid dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup akibat metabolisme tubuh yang terus melambat.
2. Hipertiroidisme
Hipertiroidisme terjadi ketika kelenjar tiroid memproduksi hormon secara berlebihan sehingga metabolisme tubuh meningkat jauh lebih cepat.
Penyebab utamanya paling sering adalah Graves’ disease, yaitu penyakit autoimun yang merangsang kelenjar tiroid untuk terus menghasilkan hormon.
Keluhan yang umum dirasakan meliputi:
- Berat badan turun drastis.
- Jantung berdebar.
- Tremor pada tangan.
- Banyak berkeringat.
- Sulit tidur.
- Mudah gelisah.
- Tidak tahan terhadap suhu panas.
Penanganan hipertiroid dapat disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya, misalnya melalui obat antitiroid, radioablasi, maupun operasi apabila diperlukan.
3. Penyakit Gondok
Gondok merupakan pembengkakan pada kelenjar tiroid yang terlihat sebagai benjolan di bagian depan leher.
Kondisi ini dapat terjadi baik pada orang dengan kadar hormon normal, terlalu tinggi, maupun terlalu rendah.
Pembesaran kelenjar dapat dipicu oleh:
- Kekurangan yodium.
- Penyakit autoimun.
- Peradangan tiroid.
- Pertumbuhan jaringan tiroid yang berlebihan.
Pada tahap awal, gondok sering tidak menimbulkan keluhan.
Seiring bertambahnya ukuran benjolan, penderita dapat mengalami:
- Leher tampak membesar.
- Sulit menelan.
- Rasa mengganjal di tenggorokan.
- Sulit bernapas apabila pembengkakan cukup besar.
Tidak semua gondok bersifat berbahaya. Namun, setiap benjolan pada leher tetap perlu dievaluasi agar penyebabnya dapat diketahui secara pasti.
4. Nodul Tiroid
Nodul tiroid adalah benjolan padat atau berisi cairan yang tumbuh di dalam kelenjar tiroid.
Sebagian besar nodul bersifat jinak, tetapi sebagian kecil dapat berkembang menjadi kanker tiroid sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Nodul dapat berupa:
- Benjolan tunggal.
- Beberapa benjolan dalam satu kelenjar.
- Kista yang berisi cairan.
Sebagian besar penderita tidak merasakan gejala pada awal kemunculan nodul.
Keluhan biasanya baru muncul ketika ukuran benjolan semakin besar, seperti:
- Benjolan yang dapat diraba.
- Sulit menelan.
- Leher terasa penuh.
- Rasa tidak nyaman saat mengenakan kerah baju.
Dokter biasanya akan menentukan pemeriksaan lanjutan sesuai karakteristik nodul untuk memastikan apakah benjolan bersifat jinak atau memerlukan evaluasi lebih mendalam.
5. Kanker Tiroid
Kanker tiroid terjadi ketika sel-sel abnormal tumbuh secara tidak terkendali pada jaringan kelenjar tiroid.
Penyakit ini termasuk salah satu jenis kanker yang umumnya memiliki peluang keberhasilan pengobatan yang baik apabila ditemukan sejak stadium awal.
Gejala yang dapat muncul meliputi:
- Benjolan pada leher yang terus membesar.
- Suara serak yang menetap.
- Sulit menelan.
- Sulit bernapas.
- Pembesaran kelenjar getah bening di leher.
Tidak semua benjolan pada leher merupakan kanker. Meski demikian, benjolan yang semakin membesar atau disertai keluhan lain tetap memerlukan pemeriksaan oleh dokter agar diagnosis dapat ditegakkan sedini mungkin.
Baca juga: Didiagnosis Penyakit Kanker, Coba Cari Second Opinion di Malaysia
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Gejala penyakit tiroid sering kali berkembang secara perlahan sehingga mudah diabaikan. Meski demikian, ada beberapa kondisi yang sebaiknya tidak ditunda untuk diperiksakan ke dokter, terutama apabila keluhan berlangsung terus-menerus atau semakin memburuk.
Segera lakukan konsultasi apabila Anda mengalami salah satu atau beberapa kondisi berikut:
- Muncul benjolan di bagian depan leher, terutama jika ukurannya semakin besar.
- Berat badan turun atau naik secara drastis tanpa penyebab yang jelas.
- Jantung sering berdebar, tangan gemetar, atau mudah berkeringat tanpa aktivitas berat.
- Tubuh terus-menerus terasa lelah, mudah mengantuk, atau tidak bertenaga.
- Sulit menelan, terasa mengganjal di tenggorokan, atau suara menjadi serak.
- Mengalami sesak napas akibat pembengkakan di area leher.
- Memiliki riwayat keluarga dengan gangguan tiroid disertai munculnya gejala yang serupa.
Saat berkonsultasi, dokter akan melakukan anamnesis mengenai keluhan dan riwayat kesehatan, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik pada leher serta jantung.
Pemeriksaan yang Dilakukan Sebelum Menentukan Pengobatan
Sebelum menyusun rencana terapi, dokter akan memastikan penyebab gangguan tiroid melalui serangkaian pemeriksaan, seperti:
1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Pemeriksaan biasanya diawali dengan anamnesis atau wawancara medis. Dokter akan menanyakan berbagai hal, seperti:
- Keluhan yang dirasakan dan kapan gejala mulai muncul.
- Riwayat penyakit sebelumnya.
- Riwayat keluarga dengan gangguan tiroid.
- Obat-obatan yang sedang dikonsumsi.
- Perubahan berat badan, nafsu makan, atau pola tidur.
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama pada area leher untuk menilai apakah terdapat pembesaran kelenjar tiroid atau benjolan. Dokter juga akan memeriksa detak jantung, tekanan darah, serta tanda-tanda lain yang mengarah pada hipertiroid maupun hipotiroid.
2. Pemeriksaan penunjang
Apabila diperlukan, dokter dapat menyarankan beberapa pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis, antara lain:
- Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar TSH, Free T3, dan Free T4.
- USG tiroid untuk melihat ukuran, bentuk, dan karakteristik benjolan.
- CT scan apabila diperlukan untuk menilai penyebaran atau ukuran benjolan yang lebih kompleks.
- Biopsi (Fine Needle Aspiration/FNA) bila ditemukan nodul yang dicurigai berisiko menjadi kanker.
Hasil seluruh pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan terapi yang paling tepat bagi setiap pasien.
Cara Dokter di Malaysia Mengobati Penyakit Tiroid dan Estimasi Biayanya
Malaysia, khususnya Penang, jadi salah satu tujuan pengobatan bagi banyak pasien Indonesia yang mengalami gangguan tiroid.
Berikut beberapa opsi pengobatan yang umum dilakukan untuk mengobati gangguan tiroid di Malaysia:
Konsumsi Obat-obatan
Terapi obat merupakan pilihan pertama pada banyak kasus gangguan fungsi tiroid, terutama hipertiroidisme dan hipotiroidisme.
1. Pengobatan untuk hipertiroid
Pada hipertiroidisme, dokter akan meresepkan obat antitiroid yang berfungsi menekan produksi hormon tiroid yang berlebihan sehingga kadar hormon dapat kembali mendekati normal.
Perbaikan gejala seperti jantung berdebar, penurunan berat badan, tangan gemetar, dan mudah berkeringat biasanya mulai dirasakan dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah terapi dimulai.
Kelebihan terapi obat:
- Efektif mengontrol kadar hormon tiroid.
- Membantu mengurangi gejala secara bertahap.
- Tidak memerlukan tindakan pembedahan.
- Cocok sebagai terapi awal pada banyak pasien.
Kekurangan terapi obat:
- Pengobatan umumnya berlangsung cukup lama.
- Sebagian pasien perlu mengonsumsi obat selama beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun.
- Obat tertentu, seperti methimazole dan propylthiouracil, dapat menimbulkan efek samping, termasuk gangguan fungsi hati sehingga penggunaannya harus dipantau secara berkala oleh dokter.
2. Pengobatan untuk hipotiroid
Berbeda dengan hipertiroid, hipotiroid diatasi menggunakan obat yang mengandung hormon tiroid sintetis untuk menggantikan hormon yang tidak dapat diproduksi tubuh dalam jumlah cukup.
Tujuan terapi ini adalah mengembalikan kadar hormon ke rentang normal sehingga metabolisme tubuh kembali berjalan dengan baik.
Keberhasilan terapi sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat sesuai dosis yang ditentukan serta melakukan kontrol secara berkala.
Baca juga: Wisata Medis ke Malaysia: Paket, Manfaat & Cara Merencanakannya
Terapi Iodium Radioaktif
Terapi iodium radioaktif merupakan salah satu pilihan untuk mengatasi hipertiroid tertentu maupun beberapa jenis kanker tiroid.
Pada prosedur ini, pasien akan mengonsumsi kapsul yang mengandung iodium radioaktif. Setelah masuk ke dalam tubuh, zat tersebut akan terkumpul di kelenjar tiroid dan menghancurkan sel-sel tiroid yang terlalu aktif.
Kelebihan terapi iodium radioaktif
Terapi ini memiliki beberapa keuntungan, antara lain:
- Tidak memerlukan operasi.
- Bersifat lebih spesifik karena kelenjar tiroid merupakan organ yang menyerap iodium dalam konsentrasi tinggi.
- Risiko kerusakan pada organ tubuh lain relatif rendah.
- Pada sebagian besar pasien hipertiroid, terapi cukup dilakukan satu kali.
Kekurangan terapi iodium radioaktif
Meski efektif, terapi ini juga memiliki beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.
Di antaranya adalah kemungkinan fungsi kelenjar tiroid menjadi terlalu rendah setelah terapi. Akibatnya, pasien dapat mengalami hipotiroid dan memerlukan konsumsi hormon tiroid pengganti dalam jangka panjang, bahkan seumur hidup.
Pada terapi kanker tiroid yang menggunakan dosis lebih tinggi, efek samping seperti mulut kering, mata kering, maupun gangguan kesuburan juga dapat terjadi pada sebagian pasien.
Lama pemulihan
Perbaikan gejala umumnya mulai terlihat dalam waktu sekitar enam bulan setelah pemberian iodium radioaktif. Pada kondisi tertentu, dokter mungkin menyarankan pemberian dosis kedua apabila respons terapi belum optimal.
Operasi Tiroidektomi
Operasi menjadi pilihan apabila pengobatan dengan obat-obatan tidak memberikan hasil yang memadai atau terdapat kondisi tertentu yang memerlukan tindakan bedah.
Beberapa kondisi yang umumnya memerlukan operasi meliputi:
- Hipertiroid yang tidak terkontrol dengan obat.
- Gondok berukuran besar yang menekan saluran napas atau kerongkongan.
- Nodul jinak yang terus membesar dan mengganggu aktivitas.
- Kanker tiroid atau benjolan yang dicurigai bersifat ganas.
Pada prosedur tiroidektomi, dokter dapat mengangkat sebagian atau seluruh kelenjar tiroid sesuai kondisi pasien.
Kelebihan operasi
Operasi menawarkan beberapa manfaat, di antaranya:
- Mengatasi produksi hormon berlebihan secara permanen pada kasus tertentu.
- Mengangkat jaringan kanker sebelum menyebar ke organ lain.
- Menghilangkan benjolan yang menyebabkan gangguan menelan atau bernapas.
- Memberikan hasil yang lebih definitif pada beberapa jenis penyakit tiroid.
Kekurangan operasi
Seperti tindakan bedah lainnya, operasi tiroidektomi juga memiliki beberapa risiko.
Setelah seluruh kelenjar tiroid diangkat, tubuh tidak lagi mampu memproduksi hormon tiroid sehingga pasien perlu mengonsumsi hormon pengganti seumur hidup.
Selain itu, letak kelenjar tiroid yang sangat dekat dengan pita suara membuat operasi memiliki risiko terjadinya perubahan suara atau cedera pada saraf pita suara, meskipun komplikasi ini relatif jarang jika dilakukan oleh dokter yang berpengalaman.
Lama pemulihan
Setelah operasi, pasien umumnya menjalani rawat inap selama sekitar 2 – 3 malam, tergantung pada kondisi masing-masing. Setelah diperbolehkan pulang, pasien tetap perlu menjalani kontrol rutin untuk memantau proses penyembuhan serta menyesuaikan dosis hormon tiroid bila diperlukan.
Baca juga: Rumah Sakit di Malaysia: 5 Hal yang Perlu Anda Ketahui
Berapa Biaya Pengobatan Penyakit Tiroid di Malaysia?
Biaya pengobatan penyakit tiroid di Malaysia dapat berbeda pada setiap pasien. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh jenis penyakit, tingkat keparahan, pemeriksaan yang dibutuhkan, rumah sakit yang dipilih, serta metode terapi yang direkomendasikan dokter.
Berikut gambaran estimasi biaya yang perlu dipersiapkan:
| Jenis Layanan | Estimasi Biaya |
| Konsultasi awal dengan dokter spesialis | RM100 – RM350 (sekitar Rp450.000 – Rp1.550.000) |
| Konsultasi dokter spesialis hipertiroid | RM100 – RM300 (sekitar Rp450.000 – Rp1.350.000) |
| Terapi iodium radioaktif | Mulai RM2.000 (sekitar Rp9.000.000), tergantung jenis tindakan kedokteran nuklir |
| Operasi tiroidektomi | RM10.000 hingga lebih dari RM20.000 (sekitar Rp44.000.000 – R89.000.000 atau lebih) |
Perlu diingat bahwa estimasi di atas umumnya belum mencakup seluruh biaya penunjang, seperti pemeriksaan laboratorium, USG, CT scan, biopsi, biaya rawat inap, obat-obatan, maupun kontrol pasca operasi.
Oleh sebab itu, pasien sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan rumah sakit atau dokter spesialis agar memperoleh estimasi biaya yang lebih sesuai dengan kondisi medisnya.
Apabila Anda berencana menjalani pemeriksaan atau pengobatan penyakit tiroid di Malaysia, menggunakan layanan medical concierge seperti Medtrip dapat membantu mempermudah proses mulai dari memilih rumah sakit yang sesuai, membuat janji konsultasi dengan dokter spesialis, memperoleh estimasi biaya, hingga mendampingi selama masa pengobatan di Malaysia.
Kontak Medtrip untuk informasi selengkapnya!