Osteoporosis merupakan salah satu penyakit tulang yang sering berkembang tanpa disadari. Kondisi ini bahkan dikenal sebagai silent disease karena umumnya tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal.
Banyak penderita baru mengetahui dirinya mengalami osteoporosis setelah mengalami patah tulang akibat benturan ringan atau bahkan saat melakukan aktivitas sehari-hari.
Oleh sebab itu, mengenali penyebab, faktor risiko, dan gejalanya sejak dini menjadi langkah penting agar kesehatan tulang tetap terjaga hingga usia lanjut. Berikut ulasannya!
Apa Itu Osteoporosis?
Osteoporosis adalah kondisi ketika kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga tulang menjadi keropos, rapuh, dan lebih mudah mengalami retak maupun patah dibandingkan tulang yang sehat.
Tulang bukanlah jaringan yang bersifat permanen. Sepanjang hidup, tubuh akan terus melakukan proses regenerasi tulang atau bone remodeling, yaitu mengganti jaringan tulang lama dengan jaringan tulang baru.
Saat seseorang masih muda, pembentukan tulang baru berlangsung lebih cepat dibandingkan penghancuran tulang lama sehingga kepadatan tulang terus meningkat. Puncak kepadatan tulang umumnya dicapai sekitar usia 25 tahun.
Memasuki usia sekitar 35 tahun, kemampuan tubuh untuk membentuk tulang baru mulai menurun. Pada saat yang sama, proses penghancuran tulang berlangsung lebih cepat sehingga keseimbangan regenerasi tulang mulai terganggu.
Apabila kondisi ini berlangsung terus-menerus, kepadatan tulang akan semakin berkurang dan akhirnya berkembang menjadi osteoporosis.
Mengapa Osteoporosis Bisa Terjadi?
Secara umum, osteoporosis terjadi akibat ketidakseimbangan antara pembentukan tulang baru dan proses penghancuran tulang lama. Proses tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan alami akibat pertambahan usia hingga kondisi kesehatan tertentu.
Beberapa penyebab utama osteoporosis meliputi:
- Menurunnya kemampuan regenerasi tulang seiring bertambahnya usia.
- Kepadatan tulang yang tidak terbentuk secara optimal sejak usia muda.
- Penurunan hormon estrogen pada wanita setelah menopause.
- Penurunan hormon testosteron pada pria.
- Gangguan hormon yang memengaruhi metabolisme tulang.
- Kekurangan kalsium dan vitamin D dalam jangka panjang.
- Gaya hidup yang kurang aktif sehingga tulang jarang mendapat rangsangan untuk tetap kuat.
Perubahan tersebut berlangsung perlahan sehingga sebagian besar penderita tidak merasakan keluhan hingga akhirnya mengalami patah tulang.
Faktor Risiko Osteoporosis
Tidak semua orang memiliki peluang yang sama untuk mengalami osteoporosis. Terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risikonya, baik yang tidak dapat diubah maupun yang masih dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup. Berikut perbedaannya:
Faktor Risiko yang Tidak Dapat Diubah
Beberapa faktor berikut merupakan kondisi alami yang tidak dapat dicegah.
- Bertambahnya usia.
- Berjenis kelamin wanita, terutama setelah menopause.
- Memiliki anggota keluarga dengan riwayat osteoporosis atau patah tulang panggul.
- Bertubuh kurus atau memiliki massa tulang yang relatif kecil.
- Ras tertentu, terutama wanita Asia dan wanita kulit putih non-Hispanik yang diketahui memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.
Meski demikian, pria tetap dapat mengalami osteoporosis, terutama setelah usia 70 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit ini bukan hanya masalah kesehatan wanita.
Faktor Risiko yang Dapat Dikendalikan
Sebaliknya, sejumlah faktor berikut masih dapat dicegah atau dikurangi sehingga peluang terjadinya osteoporosis juga dapat ditekan.
- Kekurangan asupan kalsium.
- Kekurangan vitamin D.
- Kurang mengonsumsi protein.
- Jarang berolahraga atau terlalu lama tidak aktif bergerak.
- Kebiasaan merokok.
- Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
- Indeks massa tubuh (BMI) rendah.
- Gangguan makan, seperti anoreksia nervosa.
- Penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang.
- Penggunaan beberapa jenis obat tertentu, misalnya obat antikejang, obat kanker berbasis hormon, proton pump inhibitor, obat antidepresan golongan SSRI, serta thiazolidinediones untuk diabetes tipe 2.
- Risiko jatuh yang berulang.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Osteoporosis?
Osteoporosis dapat menyerang semua kelompok usia dan jenis kelamin. Akan tetapi, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi, antara lain:
- Wanita yang telah memasuki masa menopause.
- Lansia di atas usia 65 tahun.
- Pria lanjut usia, terutama setelah usia 70 tahun.
- Orang dengan berat badan rendah.
- Individu yang memiliki riwayat keluarga osteoporosis.
- Orang dengan penyakit kronis yang memengaruhi metabolisme tulang.
- Pengguna obat kortikosteroid dalam jangka panjang.
- Individu dengan pola hidup tidak aktif.
Gejala Osteoporosis yang Mudah Dikenali
Berikut beberapa gejala osteoporosis yang paling sering ditemukan:
1. Patah Tulang Akibat Benturan Ringan
Gejala yang paling khas adalah tulang mudah patah meskipun hanya mengalami benturan ringan.
Pada orang dengan tulang normal, jatuh dari posisi berdiri biasanya tidak menyebabkan fraktur. Sebaliknya, penderita osteoporosis dapat mengalami patah tulang hanya akibat:
- Terpeleset di rumah.
- Terjatuh dari posisi berdiri.
- Mengangkat barang yang tidak terlalu berat.
- Terlalu sering membungkuk.
- Batuk yang sangat kuat pada kondisi tertentu.
Patah tulang akibat cedera ringan sering menjadi tanda pertama yang akhirnya mengarahkan dokter pada diagnosis osteoporosis.
2. Nyeri Punggung yang Muncul Tiba-Tiba
Nyeri punggung dapat terjadi apabila osteoporosis menyebabkan fraktur kompresi pada tulang belakang.
Rasa nyeri biasanya muncul secara mendadak, terasa cukup berat, dan dapat membatasi aktivitas sehari-hari. Keluhan ini sering kali disalahartikan sebagai nyeri otot biasa, padahal penyebabnya adalah tulang belakang yang mulai mengalami keretakan akibat kepadatan tulang yang sangat rendah.
Baca juga: Kebiasaan Hidup Sehat: Apa yang Bisa Dilakukan untuk Atasi Penyakit Kronis?
3. Tinggi Badan Berkurang Secara Bertahap
Penurunan tinggi badan sering kali dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu tanda osteoporosis.
Fraktur kompresi berulang pada tulang belakang menyebabkan ruas-ruas tulang belakang kehilangan tinggi sehingga postur tubuh ikut berubah. Akibatnya, seseorang dapat kehilangan tinggi badan beberapa sentimeter dibandingkan saat usia muda.
Perubahan ini biasanya berlangsung perlahan sehingga sering kali baru disadari setelah dibandingkan dengan hasil pengukuran tinggi badan sebelumnya.
4. Postur Tubuh Membungkuk (Kifosis)
Fraktur pada tulang belakang yang terjadi berulang dapat menyebabkan perubahan bentuk tulang belakang menjadi lebih melengkung ke depan.
Kondisi ini dikenal sebagai kifosis atau postur tubuh membungkuk (hunched posture).
Selain memengaruhi penampilan, kifosis juga dapat menyebabkan:
- Mudah lelah saat berdiri lama.
- Nyeri punggung kronis.
- Kesulitan menjaga keseimbangan tubuh.
- Aktivitas fisik menjadi lebih terbatas.
Pada tahap lanjut, perubahan postur bahkan dapat memengaruhi kapasitas paru-paru akibat posisi tulang belakang yang semakin melengkung.
5. Tulang Terasa Rapuh dan Aktivitas Menjadi Terbatas
Walaupun tidak selalu disertai rasa nyeri, tulang yang semakin rapuh membuat penderita cenderung membatasi aktivitas sehari-hari.
Sebagian orang mulai merasa khawatir untuk:
- Berjalan jauh.
- Naik turun tangga.
- Mengangkat barang.
- Berolahraga.
- Melakukan pekerjaan rumah.
Kekhawatiran tersebut muncul akibat meningkatnya risiko jatuh dan patah tulang. Lama-kelamaan, aktivitas fisik yang semakin berkurang justru dapat mempercepat penurunan massa tulang sehingga membentuk lingkaran yang semakin memperburuk kondisi kesehatan tulang.
Dampak Osteoporosis bagi Kehidupan Sehari-hari
Osteoporosis bukan hanya meningkatkan risiko patah tulang, tapi juga dapat memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan penderitanya.
Berikut beberapa dampak osteoporosis yang paling sering dialami penderitanya:
1. Aktivitas Sehari-hari Menjadi Lebih Terbatas
Salah satu dampak yang paling nyata adalah menurunnya kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Tulang yang rapuh membuat penderitanya harus lebih berhati-hati saat bergerak karena risiko cedera meningkat secara signifikan.
Berbagai aktivitas sederhana dapat menjadi tantangan, seperti:
- Berjalan dalam waktu lama.
- Naik dan turun tangga.
- Mengangkat barang belanjaan.
- Membersihkan rumah.
- Berkebun.
- Menggendong cucu atau anak.
- Membungkuk untuk mengambil barang di lantai.
Apabila osteoporosis telah menyebabkan patah tulang, proses pemulihan juga dapat berlangsung cukup lama. Selama masa penyembuhan, penderita mungkin memerlukan bantuan anggota keluarga untuk menjalani aktivitas sehari-hari yang sebelumnya dapat dilakukan sendiri.
2. Risiko Patah Tulang Berulang Semakin Tinggi
Osteoporosis menyebabkan struktur tulang menjadi semakin rapuh sehingga risiko mengalami fraktur tidak berhenti pada satu kejadian saja. Seseorang yang pernah mengalami patah tulang akibat osteoporosis memiliki peluang lebih besar untuk mengalami fraktur berikutnya dibandingkan orang yang belum pernah mengalaminya.
Fraktur yang berulang dapat memperpanjang masa pemulihan, meningkatkan kebutuhan rehabilitasi, dan memperbesar kemungkinan terjadinya komplikasi, terutama pada lansia.
3. Postur Tubuh Berubah dan Mobilitas Menurun
Fraktur kompresi pada tulang belakang dapat menyebabkan perubahan bentuk tulang belakang secara bertahap. Dampaknya, penderita mengalami penurunan tinggi badan dan postur tubuh menjadi semakin membungkuk (kifosis).
Perubahan tersebut dapat memengaruhi mobilitas dalam berbagai cara, antara lain:
- Langkah berjalan menjadi lebih pendek.
- Keseimbangan tubuh berkurang.
- Lebih mudah merasa lelah saat berdiri lama.
- Sulit mempertahankan posisi tubuh yang tegak.
- Rentang gerak tubuh menjadi lebih terbatas.
Mobilitas yang menurun sering kali membuat penderita semakin jarang bergerak. Padahal, kurangnya aktivitas fisik dapat mempercepat penurunan massa tulang dan massa otot sehingga kondisi osteoporosis semakin memburuk.
4. Menurunkan Kualitas Hidup dan Kemandirian
Dampak osteoporosis tidak hanya dirasakan pada kesehatan fisik, tetapi juga terhadap kualitas hidup secara keseluruhan. Nyeri yang berlangsung lama, keterbatasan gerak, serta kekhawatiran mengalami patah tulang kembali dapat mengurangi rasa percaya diri saat beraktivitas.
Beberapa perubahan yang sering dialami penderita meliputi:
- Tidak lagi bebas melakukan hobi atau olahraga favorit.
- Kesulitan bekerja apabila pekerjaan membutuhkan aktivitas fisik.
- Membutuhkan bantuan orang lain untuk berpindah tempat atau melakukan pekerjaan rumah.
- Lebih sering menjalani kontrol kesehatan dan rehabilitasi.
- Berkurangnya kesempatan untuk bersosialisasi akibat keterbatasan mobilitas.
Semakin berat osteoporosis yang dialami, semakin besar pula pengaruhnya terhadap kemandirian seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
5. Meningkatkan Risiko Masalah Kesehatan Lain Akibat Kurang Bergerak
Rasa takut mengalami patah tulang sering membuat penderita memilih untuk mengurangi aktivitas fisik. Meskipun terlihat sebagai langkah yang aman, kebiasaan tersebut justru dapat memicu berbagai masalah kesehatan lainnya.
Kurangnya aktivitas dalam jangka panjang dapat menyebabkan:
- Massa otot berkurang sehingga tubuh semakin lemah.
- Keseimbangan tubuh menurun dan risiko jatuh meningkat.
- Fleksibilitas sendi berkurang.
- Kebugaran jantung dan paru-paru menurun.
- Berat badan lebih sulit dikendalikan akibat berkurangnya pembakaran energi.
Kondisi tersebut dapat membentuk lingkaran yang saling berkaitan. Aktivitas fisik yang menurun menyebabkan otot semakin lemah, sementara otot yang lemah membuat risiko jatuh menjadi lebih tinggi. Apabila jatuh terjadi pada penderita osteoporosis, kemungkinan mengalami patah tulang pun akan semakin besar.
Oleh sebab itu, penanganan osteoporosis tidak hanya berfokus pada meningkatkan kepadatan tulang, tapi juga mempertahankan kekuatan otot, keseimbangan tubuh, dan kemampuan bergerak agar penderita tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan aman dan mandiri.
Pengobatan Osteoporosis di Malaysia
Perkembangan layanan kesehatan di Malaysia memungkinkan osteoporosis didiagnosis dan ditangani secara komprehensif, mulai dari skrining, pemeriksaan kepadatan tulang, pemberian obat, hingga program rehabilitasi.
Secara umum, tujuan pengobatan osteoporosis bukan hanya meningkatkan kepadatan tulang, tapi juga memperlambat proses pengeroposan tulang, mencegah patah tulang, mengurangi risiko jatuh, serta membantu penderita tetap aktif menjalani kehidupan sehari-hari.
Sebelum menentukan terapi, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan diagnosis sekaligus mengetahui tingkat keparahan osteoporosis.
Bagaimana Dokter di Malaysia Mendiagnosis Osteoporosis?
Diagnosis yang tepat menjadi langkah awal sebelum menentukan jenis pengobatan yang paling sesuai. Di rumah sakit maupun pusat kesehatan di Malaysia, dokter umumnya melakukan pemeriksaan secara bertahap untuk menilai kondisi tulang sekaligus mengidentifikasi faktor risiko yang dimiliki pasien.
Proses diagnosis biasanya meliputi beberapa tahapan berikut.
- Anamnesis atau wawancara medis, meliputi riwayat patah tulang, riwayat osteoporosis dalam keluarga, penggunaan obat-obatan tertentu seperti kortikosteroid, pola makan, aktivitas fisik, hingga kebiasaan merokok atau mengonsumsi alkohol.
- Pemeriksaan fisik, termasuk pengukuran tinggi badan, evaluasi postur tubuh, pemeriksaan keseimbangan, dan penilaian kemampuan bergerak.
- Foto sinar-X (X-ray) apabila dokter mencurigai adanya patah tulang, terutama pada tulang belakang atau panggul.
- Pemeriksaan laboratorium, bila diperlukan, untuk mengetahui apakah terdapat gangguan hormon, kekurangan vitamin D, atau penyakit lain yang memengaruhi kesehatan tulang.
Pemeriksaan DEXA Scan untuk Mengukur Kepadatan Tulang
Pemeriksaan yang menjadi standar utama dalam menegakkan diagnosis osteoporosis adalah Dual-Energy X-ray Absorptiometry (DEXA atau DXA Scan).
DEXA merupakan pemeriksaan yang menggunakan sinar-X dosis rendah untuk mengukur kepadatan mineral tulang. Pemeriksaan ini membantu dokter mengetahui apakah seseorang memiliki massa tulang normal, osteopenia (penurunan kepadatan tulang), atau sudah mengalami osteoporosis.
Pemeriksaan ini juga bisa digabung ketika Anda menjalani medical check up untuk bisa mengetahui tingkat kepadatan tulang lebih dini.
Baca juga: Sekalian Liburan Akhir Tahun, Ini Dia Biaya Medical Check Up di Malaysia
Beberapa keunggulan DEXA Scan antara lain:
- Prosedurnya singkat, biasanya hanya berlangsung sekitar 10 – 20 menit.
- Tidak menimbulkan rasa sakit.
- Paparan radiasi sangat rendah.
- Mampu mendeteksi penurunan kepadatan tulang sejak dini.
- Digunakan untuk memantau keberhasilan terapi pada pasien yang sudah menjalani pengobatan osteoporosis.
Pemeriksaan ini umumnya direkomendasikan bagi:
- Wanita berusia 65 tahun ke atas.
- Wanita usia 50 – 64 tahun yang memiliki faktor risiko osteoporosis.
- Pria berusia 70 tahun ke atas.
- Individu dengan riwayat patah tulang akibat benturan ringan atau memiliki faktor risiko tinggi lainnya.
Setelah hasil pemeriksaan diperoleh, dokter akan menentukan pilihan terapi yang paling sesuai dengan kondisi pasien, seperti:
1. Pemberian Obat untuk Memperlambat Pengeroposan Tulang
Terapi obat menjadi salah satu penanganan utama bagi penderita osteoporosis dengan risiko fraktur yang tinggi. Jenis obat yang dipilih akan disesuaikan dengan usia pasien, hasil DEXA Scan, riwayat penyakit, serta kemungkinan efek samping.
Beberapa obat yang umum digunakan di Malaysia meliputi:
- Bisfosfonat, yang bekerja memperlambat proses penghancuran tulang sehingga kepadatan tulang dapat dipertahankan dan risiko patah tulang menurun.
- Selective Estrogen Receptor Modulators (SERMs) yang membantu mempertahankan massa tulang, terutama pada wanita setelah menopause.
- Denosumab, yaitu antibodi monoklonal yang berfungsi menghambat proses pengeroposan tulang sehingga risiko fraktur dapat dikurangi.
- Hormon paratiroid, yang merangsang pembentukan tulang baru pada pasien dengan osteoporosis berat.
- Kalsitonin, meskipun saat ini penggunaannya lebih terbatas dan umumnya dipertimbangkan pada kondisi tertentu.
Dokter akan melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan obat memberikan manfaat yang optimal sekaligus memantau kemungkinan efek samping selama terapi berlangsung.
Baca juga: Pengalaman Berobat ke Malaysia: 5 Alasan yang Bikin Puas
2. Terapi Hormon untuk Pasien Tertentu
Pada wanita yang telah memasuki masa menopause, penurunan hormon estrogen menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya kepadatan tulang. Oleh sebab itu, sebagian pasien dapat memperoleh manfaat dari Hormone Replacement Therapy (HRT) atau terapi penggantian hormon.
Terapi ini bertujuan untuk membantu memperlambat hilangnya massa tulang sekaligus mengurangi risiko terjadinya fraktur. Namun, HRT tidak diberikan kepada semua pasien karena dokter perlu mempertimbangkan manfaat dan potensi risikonya berdasarkan kondisi kesehatan masing-masing.
Selain HRT, penggunaan SERMs juga dapat menjadi alternatif pada pasien tertentu karena memberikan efek perlindungan terhadap tulang tanpa menggantikan hormon estrogen secara langsung.
3. Suplemen Kalsium dan Vitamin D
Kecukupan nutrisi menjadi bagian penting dalam pengobatan osteoporosis. Apabila kebutuhan harian tidak dapat dipenuhi melalui makanan, dokter biasanya akan merekomendasikan suplemen kalsium dan vitamin D.
Kedua nutrisi tersebut memiliki peran yang saling melengkapi, yaitu:
- Kalsium menjadi komponen utama pembentukan tulang.
- Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium secara lebih optimal.
Secara umum, kebutuhan kalsium orang dewasa berkisar 1.000 – 1.200 mg per hari, baik yang berasal dari makanan maupun suplemen sesuai anjuran dokter.
Selain mengonsumsi suplemen, dokter di Malaysia juga mendorong pasien untuk memperbaiki pola makan dengan memperbanyak sumber kalsium alami.
Sementara itu, kadar vitamin D juga dapat dioptimalkan melalui paparan sinar matahari sekitar 15 – 20 menit beberapa kali setiap minggu, terutama sebelum pukul 10 pagi atau setelah pukul 4 sore.
4. Fisioterapi dan Program Latihan Terstruktur
Pengobatan osteoporosis tidak hanya mengandalkan obat-obatan. Di berbagai rumah sakit di Malaysia, fisioterapi menjadi bagian penting dalam membantu pasien mempertahankan fungsi tubuh dan mengurangi risiko jatuh.
Program rehabilitasi biasanya disusun secara individual berdasarkan usia, tingkat kepadatan tulang, kemampuan fisik, serta riwayat fraktur yang dimiliki pasien.
Fisioterapi bertujuan untuk:
- Meningkatkan kekuatan otot yang menopang tulang.
- Melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh.
- Mengurangi risiko jatuh.
- Mengajarkan teknik bergerak yang aman.
- Menyusun program latihan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Latihan keseimbangan juga menjadi bagian penting karena dapat membantu menurunkan risiko terjatuh, terutama pada kelompok lansia.
5. Perubahan Gaya Hidup sebagai Bagian dari Terapi Jangka Panjang
Pengobatan osteoporosis akan memberikan hasil yang lebih baik apabila disertai perubahan gaya hidup yang konsisten. Langkah ini tidak hanya membantu menjaga kepadatan tulang, tetapi juga mengurangi kemungkinan terjadinya fraktur di masa mendatang.
Beberapa perubahan gaya hidup yang umumnya dianjurkan dokter di Malaysia meliputi:
- Memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D setiap hari.
- Berolahraga secara rutin, terutama latihan beban (weight-bearing exercise) dan latihan kekuatan otot.
- Menghindari kebiasaan merokok.
- Membatasi konsumsi minuman beralkohol.
- Mengurangi konsumsi kafein secara berlebihan agar penyerapan kalsium tetap optimal.
- Menjaga berat badan ideal melalui pola makan bergizi seimbang.
- Mengurangi risiko jatuh di rumah, misalnya dengan memastikan pencahayaan yang cukup, menggunakan alas kaki yang tidak licin, dan menghindari lantai yang mudah menyebabkan terpeleset.
Dengan terapi yang tepat dan dilakukan secara konsisten, banyak penderita osteoporosis dapat mempertahankan kualitas hidup, mengurangi risiko patah tulang, serta menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih aman dan nyaman.
Jika Anda ingin menjalani pemeriksaan atau pengobatan osteoporosis di Malaysia, prosesnya kini semakin mudah dengan bantuan layanan medical concierge seperti Medtrip.
Medtrip dapat membantu Anda mulai dari memilih rumah sakit yang sesuai, mengatur jadwal konsultasi dengan dokter spesialis ortopedi, mempersiapkan kebutuhan perjalanan medis, hingga mendampingi pasien apabila diperlukan tindakan medis lanjutan. Kontak Medtrip untuk konsultasi sekarang!