Tanda PCOS pada wanita sering muncul diam-diam dan baru disadari ketika dampaknya sudah terasa, mulai dari haid yang makin tidak teratur, perubahan fisik yang mengganggu kepercayaan diri, hingga sulit hamil.
Banyak wanita tidak menyadari bahwa keluhan-keluhan tersebut saling berkaitan dan bisa menjadi sinyal PCOS. Artikel ini akan membantu Anda mengenali tanda-tandanya sejak dini, memahami penyebab dan risikonya, serta mengetahui gaya hidup dan pilihan pengobatan yang tepat agar PCOS tidak menghambat kualitas hidup di masa depan. Yuk, simak!
Apa Itu PCOS?
Sindrom polikistik ovarium atau polycystic ovarian syndrome (PCOS) adalah gangguan hormonal yang terjadi pada wanita ketika sel telur (ovum) tidak berkembang secara normal akibat ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan ovarium atau indung telur menghasilkan hormon androgen dalam jumlah yang lebih tinggi dari normal.
Androgen sebenarnya adalah hormon seks pria, namun secara alami juga dimiliki oleh wanita dalam jumlah kecil. Pada penderita PCOS, produksi androgen yang berlebihan inilah yang menjadi akar dari banyak gejala, mulai dari gangguan siklus menstruasi, pertumbuhan rambut berlebih, hingga masalah kesuburan.
Kelebihan hormon androgen dapat mengganggu proses pematangan sel telur. Akibatnya, ovarium justru membentuk banyak kantong kecil berisi cairan yang sering disebut sebagai kista.
1. Mengapa PCOS Bisa Mengganggu Ovulasi?
Dalam siklus menstruasi normal, ovarium akan mematangkan satu sel telur setiap bulan dan melepaskannya melalui proses ovulasi.
Ketika ovulasi tidak terjadi secara teratur, sel telur akan “terjebak” di dalam ovarium dan membentuk kantong cairan kecil. Inilah yang membuat penderita PCOS sering mengalami haid yang jarang, sangat tidak teratur, atau bahkan tidak menstruasi sama sekali dalam beberapa bulan.
2. Sejak Usia Berapa Gejala PCOS Bisa Muncul?
Gejala PCOS sebenarnya bisa mulai muncul sejak usia remaja, terutama setelah seorang perempuan mengalami menstruasi pertama. Namun, karena pada masa remaja siklus haid memang belum stabil, tanda-tanda PCOS sering kali dianggap sebagai hal yang normal.
Sayangnya, banyak wanita baru mendapatkan diagnosis PCOS saat memasuki usia 20 – 30 tahun, terutama ketika mulai merencanakan kehamilan. Padahal, deteksi dan penanganan sejak dini bisa membantu mengurangi risiko komplikasi jangka panjang.
3. Apakah PCOS Termasuk Penyakit yang Bisa Disembuhkan?
PCOS bukan penyakit yang bisa “disembuhkan” sepenuhnya, tetapi bisa dikontrol dengan penanganan yang tepat. Dengan kombinasi perubahan gaya hidup, pengaturan hormon, dan pemantauan medis rutin, penderita PCOS tetap bisa menjalani hidup sehat, memiliki siklus haid yang lebih teratur, dan bahkan hamil.
Pemahaman yang benar mengenai PCOS menjadi kunci utama agar penderita tidak merasa takut, salah kaprah, atau justru mengabaikan kondisi ini.
5 Penyebab PCOS yang Perlu Diwaspadai
Hingga saat ini, penyebab pasti sindrom polikistik ovarium memang belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli sepakat bahwa PCOS merupakan kondisi multifaktorial, artinya dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor, baik hormonal, genetik, maupun metabolik.
Berikut adalah lima penyebab PCOS yang paling sering ditemukan dan perlu diwaspadai:
1. Resistensi Insulin dan Kadar Insulin Berlebih
Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas dan berfungsi untuk mengatur kadar gula darah dengan membantu sel-sel tubuh menyerap glukosa sebagai sumber energi. Dalam kondisi normal, insulin bekerja secara efektif untuk menjaga keseimbangan gula darah.
Namun, pada banyak wanita dengan PCOS, terjadi kondisi yang disebut resistensi insulin. Artinya, sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik, sehingga pankreas harus memproduksi insulin dalam jumlah yang lebih besar untuk mencapai efek yang sama.
Hubungan Insulin dengan PCOS
Kadar insulin yang terlalu tinggi di dalam tubuh dapat memicu ovarium untuk memproduksi lebih banyak hormon androgen. Inilah yang kemudian memperburuk gangguan ovulasi dan memunculkan berbagai gejala PCOS.
2. Faktor Genetik atau Keturunan
PCOS adalah kondisi yang bisa diturunkan dalam keluarga. Jika seorang wanita memiliki ibu, saudara perempuan, atau anggota keluarga dekat yang mengidap PCOS, maka risiko untuk mengalami kondisi yang sama akan meningkat.
Faktor genetik ini memengaruhi bagaimana tubuh mengatur hormon, memproses insulin, serta bagaimana ovarium merespons sinyal hormonal. Meski genetik bukan satu-satunya penyebab, keberadaannya menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan.
Karena itu, wanita dengan riwayat PCOS dalam keluarga sebaiknya lebih waspada terhadap perubahan siklus haid dan gejala hormonal sejak usia muda.
3. Gangguan Keseimbangan Hormon Reproduksi
Ketidakseimbangan hormon merupakan inti dari terjadinya PCOS. Beberapa gangguan hormon yang sering ditemukan pada penderita PCOS meliputi:
Peningkatan Kadar Testosteron
Kadar testosteron yang lebih tinggi dari normal dapat menyebabkan gejala seperti jerawat, rambut rontok, dan pertumbuhan rambut berlebih di wajah atau tubuh.
Peningkatan Hormon Luteinising (LH)
LH berperan dalam proses ovulasi. Pada PCOS, kadar LH sering kali lebih tinggi sehingga mengganggu pematangan sel telur.
Rendahnya Globulin Pengikat Hormon Seks (SHBG)
SHBG berfungsi mengikat hormon seks di dalam darah. Jika kadarnya rendah, hormon androgen bebas akan meningkat dan memperburuk gejala PCOS.
Peningkatan Hormon Prolaktin
Pada beberapa kasus, kadar prolaktin yang tinggi juga ditemukan dan dapat memperburuk gangguan siklus menstruasi.
4. Peradangan Kronis Tingkat Rendah
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan PCOS cenderung memiliki tingkat peradangan kronis yang lebih tinggi di dalam tubuh. Peradangan ini dapat merangsang ovarium untuk memproduksi lebih banyak androgen.
Peradangan kronis sering dikaitkan dengan gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan tinggi gula dan lemak trans, kurang aktivitas fisik, serta stres berkepanjangan.
5. Gaya Hidup dan Faktor Lingkungan
Meskipun bukan penyebab langsung, gaya hidup berperan besar dalam memperparah atau memicu munculnya PCOS pada individu yang sudah memiliki faktor risiko.
Beberapa faktor gaya hidup yang dapat berkontribusi antara lain:
- Pola makan tinggi gula dan karbohidrat olahan
- Kurang aktivitas fisik
- Kurang tidur
- Stres berkepanjangan
Faktor-faktor ini dapat memperburuk resistensi insulin dan ketidakseimbangan hormon, sehingga meningkatkan risiko PCOS atau memperparah gejalanya.
5 Risiko PCOS bagi Penderitanya
Sindrom polikistik ovarium bukan hanya berdampak pada siklus menstruasi atau kesuburan saja. Jika tidak ditangani dengan tepat, PCOS dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan jangka panjang, baik yang berkaitan dengan hormon, metabolisme, maupun kesehatan mental.
Berikut adalah lima risiko PCOS yang paling sering dialami oleh penderitanya:
1. Gangguan Kesuburan dan Sulit Hamil
Salah satu risiko PCOS yang paling dikenal adalah gangguan kesuburan. Hal ini terjadi karena PCOS menghambat proses ovulasi, yaitu pelepasan sel telur dari ovarium.
Pada wanita dengan PCOS:
- Ovulasi bisa terjadi sangat jarang,
- Sel telur tidak matang sempurna,
- Siklus haid menjadi tidak teratur.
Akibatnya, peluang terjadinya kehamilan menjadi lebih kecil. Meski demikian, penting dipahami bahwa PCOS bukan berarti mandul. Dengan pengelolaan yang tepat, banyak wanita dengan PCOS tetap bisa hamil secara alami maupun dengan bantuan medis.
2. Risiko Diabetes Tipe 2 dan Gangguan Metabolik
Sekitar 70 persen wanita dengan PCOS diketahui mengalami resistensi insulin. Kondisi ini membuat tubuh kesulitan mengatur kadar gula darah secara optimal.
Jika resistensi insulin tidak ditangani, risiko yang bisa muncul antara lain:
- Prediabetes
- Diabetes melitus tipe 2
- Sindrom metabolik
Risiko ini akan semakin tinggi pada penderita PCOS yang memiliki berat badan berlebih, jarang berolahraga, dan memiliki riwayat diabetes dalam keluarga.
3. Penyakit Jantung dan Gangguan Pembuluh Darah
PCOS juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Beberapa faktor yang berperan antara lain:
- Kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi
- Kadar kolesterol baik (HDL) yang rendah
- Tekanan darah tinggi
- Peradangan kronis tingkat rendah
Kombinasi gangguan hormon dan metabolisme ini membuat penderita PCOS perlu lebih waspada terhadap kesehatan jantung sejak usia muda.
Baca juga: Lakukan Sekarang! 8 Cara Cegah Serangan Jantung di Usia Muda
4. Gangguan Kesehatan Mental
Perubahan hormon, tekanan akibat perubahan fisik, serta kesulitan hamil dapat berdampak pada kondisi psikologis penderita PCOS. Tidak sedikit wanita dengan PCOS yang mengalami:
- Kecemasan berlebih
- Stres kronis
- Depresi
- Penurunan kepercayaan diri
Masalah seperti jerawat parah, pertumbuhan rambut berlebih, atau berat badan yang sulit turun sering kali memengaruhi citra diri dan kesehatan mental secara keseluruhan.
5. Risiko Gangguan Endometrium
Wanita dengan PCOS yang jarang mengalami menstruasi berisiko mengalami penebalan dinding rahim (endometrium). Hal ini terjadi karena:
- Ovulasi tidak terjadi
- Hormon progesteron tidak diproduksi secara optimal
- Endometrium terus menebal tanpa peluruhan teratur
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko perdarahan abnormal dan gangguan endometrium lainnya jika tidak ditangani dengan tepat.
6 Tanda PCOS pada Wanita yang Perlu Diwaspadai Sejak Dini
Tanda PCOS pada wanita dapat muncul sejak masa pubertas, bersamaan dengan haid pertama. Namun, pada sebagian kasus, gejalanya baru terasa lebih jelas saat dewasa, terutama ketika terjadi kenaikan berat badan yang signifikan atau saat mulai merencanakan kehamilan.
Berikut adalah lima tanda PCOS yang paling umum dan penting untuk dikenali:
1. Gangguan Menstruasi yang Tidak Teratur
Gangguan menstruasi merupakan tanda PCOS yang paling sering dialami. Pola haid pada penderita PCOS bisa sangat bervariasi, antara lain:
- Haid hanya terjadi kurang dari 8 – 9 kali dalam setahun
- Jarak antar haid terlalu panjang (lebih dari 35 hari)
- Atau sebaliknya, terlalu pendek (kurang dari 21 hari)
- Perdarahan menstruasi sangat deras atau berlangsung lama
Gangguan ini terjadi akibat ovulasi yang tidak teratur atau bahkan tidak terjadi sama sekali.
2. Gejala Akibat Kadar Androgen yang Meningkat
Peningkatan hormon androgen pada wanita dengan PCOS dapat memunculkan ciri-ciri fisik yang menyerupai hormon pria. Beberapa di antaranya adalah:
- Pertumbuhan rambut berlebih di wajah, dada, punggung, atau perut (hirsutisme)
- Jerawat yang parah dan sulit diatasi
- Rambut kepala menipis atau rontok di area tertentu
Gejala ini sering kali menjadi keluhan utama yang mendorong penderita untuk memeriksakan diri ke dokter.
3. Banyaknya Kista di Ovarium
Pada pemeriksaan USG, ovarium penderita PCOS sering menunjukkan adanya banyak kantong kecil berisi cairan di sekitar sel telur. Kista ini terbentuk karena folikel gagal matang dan tidak melepaskan sel telur.
Meski disebut kista, kondisi ini tidak selalu menimbulkan nyeri. Namun, keberadaannya menjadi salah satu tanda penting dalam mendiagnosis PCOS.
4. Perubahan Warna Kulit Menjadi Lebih Gelap
Beberapa wanita dengan PCOS mengalami perubahan warna kulit yang menggelap, terutama di area lipatan tubuh, seperti leher, ketiak, selangkangan, bawah payudara.
Kondisi ini sering dikaitkan dengan resistensi insulin. Semakin tinggi kadar insulin dalam tubuh, semakin besar kemungkinan munculnya perubahan warna kulit ini.
5. Berat Badan Mudah Naik dan Sulit Turun
Meskipun tidak semua penderita PCOS mengalami obesitas, banyak wanita dengan kondisi ini mengeluhkan:
- Berat badan mudah bertambah
- Lemak menumpuk di area perut
- Sulit menurunkan berat badan meski sudah diet
Hal ini berkaitan erat dengan resistensi insulin dan gangguan metabolisme yang menyertai PCOS.
6. Perubahan Suasana Hati dan Kondisi Emosional
Tidak hanya berdampak pada fisik, PCOS juga dapat memengaruhi kesehatan emosional penderitanya. Fluktuasi hormon yang terjadi secara terus-menerus dapat mengganggu keseimbangan kimia di otak yang mengatur suasana hati.
Beberapa perubahan emosional yang sering dialami antara lain:
- Mudah merasa cemas atau tertekan
- Mood swing tanpa pemicu yang jelas
- Stres berkepanjangan
- Menurunnya rasa percaya diri
Kondisi ini sering diperparah oleh gejala fisik PCOS, seperti jerawat, pertumbuhan rambut berlebih, atau kesulitan hamil. Oleh karena itu, PCOS sebaiknya dipahami sebagai kondisi yang memengaruhi kesehatan secara menyeluruh, baik fisik maupun mental.
5 Pola Gaya Hidup yang Dianjurkan bagi Penderita PCOS
PCOS merupakan kondisi kronis yang tidak hanya berkaitan dengan sistem reproduksi, tetapi juga memengaruhi hormon, metabolisme, dan kesehatan secara keseluruhan. Karena itu, pengelolaan PCOS tidak bisa hanya mengandalkan obat-obatan, tetapi perlu dibarengi dengan perubahan gaya hidup yang berkelanjutan.
Penerapan pola hidup sehat terbukti dapat membantu mengurangi gejala PCOS, memperbaiki keseimbangan hormon, meningkatkan sensitivitas insulin, serta menurunkan risiko komplikasi jangka panjang. Berikut lima pola gaya hidup yang sangat dianjurkan bagi penderita PCOS.
1. Menerapkan Pola Makan Sehat dan Seimbang
Pola makan memegang peranan penting dalam pengelolaan PCOS, terutama karena kondisi ini sangat berkaitan dengan resistensi insulin. Tujuan utama dari pola makan sehat pada PCOS adalah menjaga kestabilan kadar gula darah dan mengurangi lonjakan insulin.
Beberapa prinsip pola makan yang dianjurkan meliputi:
- Mengonsumsi makanan tinggi serat seperti sayuran hijau, buah-buahan, dan biji-bijian utuh.
- Mengurangi konsumsi karbohidrat olahan dan gula tambahan.
- Membatasi makanan ultra-proses dan minuman manis.
- Mengutamakan protein berkualitas dari kacang-kacangan, telur, ikan, dan daging tanpa lemak.
Serat bantu memperlambat penyerapan gula ke dalam darah, sehingga kadar insulin lebih stabil. Sementara itu, asupan protein yang cukup dapat membantu mengontrol rasa lapar dan mencegah makan berlebihan.
Dengan pola makan yang tepat, penderita PCOS dapat mengelola berat badan dengan lebih baik sekaligus mengurangi keparahan gejala.
2. Rutin Melakukan Aktivitas Fisik dan Olahraga
Olahraga merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat bagi penderita PCOS. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat membantu:
- Menurunkan resistensi insulin
- Memperbaiki metabolisme tubuh
- Menjaga berat badan
- Meningkatkan suasana hati
Disarankan untuk berolahraga setidaknya 30 menit per hari atau minimal 150 menit per minggu. Kombinasi antara olahraga aerobik dan latihan kekuatan memberikan manfaat yang lebih optimal dalam menjaga keseimbangan hormon pada PCOS.
3. Menjaga dan Mengelola Berat Badan Secara Sehat
Bagi penderita PCOS yang memiliki berat badan berlebih, penurunan berat badan meskipun hanya 5 – 10 persen dari berat badan awal sudah dapat memberikan manfaat yang signifikan, seperti:
- Bantu mengatur siklus menstruasi
- Meningkatkan peluang ovulasi
- Mengurangi kadar androgen
Penurunan berat badan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, dengan kombinasi pola makan sehat dan olahraga, bukan dengan diet ekstrem yang justru dapat mengganggu hormon.
4. Mengelola Stres dengan Baik
Stres yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memperburuk gejala PCOS karena memicu peningkatan hormon kortisol. Kadar kortisol yang tinggi dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi dan memperparah resistensi insulin.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengelola stres antara lain:
- Meditasi atau latihan pernapasan
- Yoga atau stretching ringan
- Melakukan hobi yang menyenangkan
- Mengatur waktu istirahat dan aktivitas dengan seimbang
Mengelola stres bukan hanya bantu memperbaiki kondisi emosional, tetapi juga berdampak positif pada keseimbangan hormon secara keseluruhan.
5. Menjaga Kualitas Tidur dan Menghindari Kebiasaan Buruk
Tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting bagi penderita PCOS. Kurang tidur atau kebiasaan begadang dapat mengganggu hormon insulin, kortisol, dan hormon reproduksi lainnya.
Selain itu, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol sebaiknya dihindari karena dapat memperburuk resistensi insulin dan mengganggu keseimbangan hormon. Menghindari kebiasaan buruk ini akan membantu tubuh merespons pengelolaan PCOS dengan lebih baik.
Pengobatan PCOS di Malaysia: Diagnosis hingga Pilihan Terapinya
Penanganan PCOS memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan personal. Di Malaysia, dikenal memiliki fasilitas medis dan spesialis kandungan yang maju, pengobatan PCOS dilakukan berdasarkan gejala yang dialami pasien, tujuan reproduksi, serta kondisi kesehatan lain yang menyertai, seperti diabetes atau gangguan jantung.
Baca juga: Sebelum Berobat ke Penang, Pahami Tanya Jawab Penyakit Diabetes Melitus Berikut!
Penting untuk dipahami bahwa PCOS tidak bisa disembuhkan secara total. Namun, dengan diagnosis yang tepat dan terapi yang sesuai, gejalanya dapat dikontrol sehingga penderita tetap bisa menjalani hidup sehat dan produktif.
Cara Dokter Mendiagnosis PCOS di Malaysia
Proses diagnosis PCOS tidak hanya bergantung pada satu pemeriksaan saja. Dokter biasanya akan melakukan serangkaian tahapan untuk memastikan diagnosis secara akurat dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang memiliki gejala serupa.
1. Anamnesis dan Pemeriksaan Awal
Tahap pertama yang dilakukan dokter adalah anamnesis, yaitu wawancara medis untuk memahami kondisi pasien secara menyeluruh. Pada tahap ini, dokter akan menggali informasi seperti:
- Riwayat siklus menstruasi
- Keluhan jerawat, pertumbuhan rambut berlebih, atau kerontokan rambut
- Perubahan berat badan
- Riwayat sulit hamil
- Gaya hidup sehari-hari
- Riwayat penyakit keluarga, seperti PCOS atau diabetes
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pengukuran berat badan, indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, serta pemeriksaan tanda-tanda hiperandrogenisme.
Baca juga: Biaya Medical Check Up: Lebih Murah di Penang, Kuala Lumpur, atau Melaka
2. Kriteria Diagnosis PCOS
Diagnosis PCOS umumnya ditegakkan apabila pasien memenuhi dua dari tiga kriteria berikut:
- Tidak adanya ovulasi atau ovulasi yang jarang, yang ditandai dengan siklus menstruasi tidak teratur.
- Kadar hormon androgen yang tinggi, baik secara klinis (jerawat, hirsutisme, kerontokan rambut) maupun hasil pemeriksaan laboratorium.
- Ditemukannya kista ovarium melalui pemeriksaan USG.
Jika dua dari tiga kriteria tersebut terpenuhi, maka diagnosis PCOS dapat ditegakkan.
3. Pemeriksaan Penunjang
Untuk mendukung diagnosis, dokter di Malaysia biasanya akan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, seperti:
- Tes darah untuk memeriksa kadar hormon reproduksi dan hormon metabolik.
- Pemeriksaan gula darah dan profil lipid.
- USG panggul untuk melihat kondisi ovarium dan mendeteksi adanya kista.
Pemeriksaan ini juga bertujuan untuk menyingkirkan kondisi lain yang bisa menyebabkan gangguan hormon, seperti gangguan tiroid atau kelainan hormon lainnya.
Pilihan Pengobatan PCOS di Malaysia
Berikut beberapa pilihan pengobatan PCOS yang umum dilakukan di Malaysia:
1. Perubahan Gaya Hidup sebagai Terapi Dasar
Perubahan gaya hidup merupakan langkah awal dan fondasi utama dalam pengelolaan PCOS. Dokter biasanya akan menganjurkan olahraga teratur, pola makan sehat, dan penurunan berat badan bagi pasien dengan berat badan berlebih.
Penurunan berat badan terbukti dapat menurunkan kadar gula darah dan memperbaiki sensitivitas insulin. Penelitian menunjukkan bahwa menurunkan sekitar 10 persen dari kelebihan berat badan sudah dapat:
- Membantu siklus menstruasi menjadi lebih teratur
- Memperbaiki keseimbangan hormon
- Meningkatkan peluang kehamilan
2. Pengobatan untuk Mengatasi Gejala Hiperandrogenisme
Untuk mengatasi gejala seperti pertumbuhan rambut berlebih di wajah atau tubuh, dokter dapat merekomendasikan beberapa pendekatan, antara lain:
- Krim topikal untuk memperlambat pertumbuhan rambut
- Tindakan laser hair removal sebagai solusi jangka panjang
Pendekatan ini bersifat simptomatik, bertujuan meningkatkan kenyamanan dan kepercayaan diri pasien.
3. Terapi Obat-obatan
Obat-obatan diberikan untuk membantu mengatur hormon dan mengatasi keluhan tertentu. Beberapa jenis terapi obat yang umum digunakan meliputi:
- Pil kontrasepsi oral untuk mengatur siklus menstruasi dan mengurangi gejala hiperandrogenisme.
- Progestin untuk bantu melancarkan menstruasi.
- Obat perangsang ovulasi untuk pasien yang ingin hamil
Pemilihan obat akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan harus berada di bawah pengawasan dokter.
4. Terapi Kesuburan dan Program Bayi Tabung
Bagi penderita PCOS yang mengalami kesulitan hamil dan tidak berhasil dengan terapi obat, dokter di Malaysia dapat merekomendasikan terapi kesuburan lanjutan.
Salah satu pilihannya adalah:
- Clomiphene untuk merangsang ovarium melepaskan sel telur.
- Program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) jika terapi sebelumnya tidak berhasil
Dalam prosedur IVF, sel telur diambil dari ovarium, dibuahi di luar tubuh, lalu embrio dimasukkan kembali ke dalam rahim. Metode ini memiliki peluang kehamilan yang lebih tinggi, meski juga memiliki kemungkinan kehamilan kembar.
Baca juga: Apa Itu IVF? Berikut Prosedur dan Cara Memilih Rumah Sakit di Malaysia
Kapan Harus Mengunjungi Dokter Kandungan?
Konsultasi ke dokter kandungan sangat dianjurkan jika seorang wanita mengalami beberapa kondisi berikut:
- Siklus menstruasi tidak teratur, kurang dari enam hingga delapan kali dalam setahun.
- Tanda ketidakseimbangan hormon, seperti jerawat parah atau pertumbuhan rambut berlebih.
- Kesulitan hamil meski sudah berusaha dalam waktu tertentu.
Deteksi dan penanganan dini dapat bantu mencegah komplikasi jangka panjang serta meningkatkan kualitas hidup penderita PCOS.
Jika kamu mengalami gejala PCOS dan ingin mendapatkan penanganan yang lebih menyeluruh, berobat ke Malaysia bisa menjadi pilihan yang tepat. Dengan dukungan medical concierge seperti Medtrip, seluruh proses pengobatan dapat dijalani dengan lebih mudah dan nyaman.
Baca juga: 5 Alasan Layanan Concierge Penting bagi Pasien yang Ingin Berobat ke Luar Negeri
Medtrip akan membantu Anda mulai dari pemilihan dokter dan rumah sakit terbaik di Malaysia, pendaftaran dan penjadwalan pemeriksaan, hingga pengurusan akomodasi serta transportasi selama kamu berada di Malaysia.
Bahkan, jika diperlukan pemeriksaan lanjutan atau terapi jangka panjang, semuanya akan diatur secara terintegrasi. Dengan pendampingan yang tepat, kamu bisa lebih fokus pada pemulihan dan pengelolaan PCOS tanpa harus repot mengurus hal teknis sendiri. Yuk, konsultasi dengan Medtrip untuk dapatkan informasi lebih lanjut!